_______
Hari ini ada pemberangkatan haji. Momen seperti ini banyak
maknanya. Untuk jamaah yang berangkat, ini merupakan kejadian yang tak terkira
nilainya. Proses panjang menunggu sejak pendaftaran bertahun-tahun, belasan tahun lalu saatnya terbayar kesabaran itu kini. Atau mungkin
karena suatu hal, ada yang tetap rela bila tidak sekarang. Begitu pun kesibukan
atau keribetan persiapan meninggalkan keluarga satu bulan hingga 40-an
hari. Pikiran dan perasaan bercampur baur, campur aduk. Ditambah pula
kelelahan menjalani tradisi baik, yang mampu dijalani, semampunya, karena bukan
hal yang wajib atu pun sunnah yang terkait degan syariat ibadah haji. Lain
ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain tempat lain tradisinya, lain
orang lain kepala dan lain-lain kemampuan dan kondisinya. Semua segera akan
dilepaskan, ditinggal terbang. Tiba saatnya menuju pelaksanaan ibadah yang menunggu
kesabaran dan kehati-hatian tingkat tinggi, untuk menggapai haji mabrur di sisi
Allah. Bismillaahi tawakkaltu 'alallaahu laahawla walaaquwwata illaa billaah.
Aamiin.
Begitu terbang mengudara meninggalkan Tanah Air menuju Tanah
Suci terasa ada beban yang diringankan Allah. Kemantapan hati yang tengah
dijalani dengan dipenuhi kepasrahan atau tawakkal ilaLlaah. Ada pula kerinduan
yang dalam terpendam kini kian mendekat pada perjumapaan, melihat dan masuk, shalat di Masjid Nabawi dan Madinatul Munawwarah Kota Nabi, serta Baitullah Masjidil haram
dan Kota Makkah Al Mukarramah. Hati siapa yang tak membuncah. Boleh merasa seakan tak
menduga ini terjadi, meski selama ini berdoa dan berharap. Kenyatannya sekarang bukan mimpi lagi ketika kaki
benar-benar menjejak di Tanah Suci. Ini tempatmu dahulu, Ya Nabi. Tentu belum
seperti ini tetapi di sinilah dahulu engkau ada, menerima risalah Sang Pencipta
untuk petunjuk dan tuntunan hidup manusia serta rahmat bagi seluruh alam.
Engkau memang manusia yang tak ditakdirkan hidup abadi di dunia, Ya Rasul. Kami
ke kotamu tak mungkin lagi menemuimu. Namun kami bersyukur kapada Allah, dengan
dipanggilnya kami ke sini, kami merasa makin cinta dan dekat denganmu. Salam
'alayka Ya Rasuulullah.
*******
Kini saat saudara-saudara kami berangkat menunaikan panggilan Allah tahun ini, kembali muncul kenangan pengalaman 2 tahun lalu itu. Ada kerinduan kembali mengunjungi Tanah Suci bagi yang pernah ke sana, sering sekali diangkapkan. Penulis memperoleh cerita langsung dari tetangga bahwa ketika penulis meninggalkan rumah pada pemberangkatan dahulu, beliau yang telah berhaji dan sudah pernah berangkat umrah pula, tak tahan membendung perasaan ingin kembali. Berbekal uang simpanan 26 juta, si ibu yang pensiunan guru itu menyusul kami ke kota kabupaten, untuk mendaftarkan diri berhaji lagi dan lalu mendapatkan porsi. Beliau berharap sebagai lansia untuk dapat berangkat lebih cepat. Wallaahu a'lam. Demikianlah memang, Kota Suci merupakan magnet untuk kaum muslimin berziarah, beribadah, memenuhi paggilan Ilahi. Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika laasyariika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka walmulk laasyariika laka.
Kami makin menyadari bahwa pengalaman beribadah ke Tanah Suci adalah nikmat besar yang tak terkirakan yang harus banyak-banyak disyukuri. Ibadah haji bukan puncak ibadah, demikian pean Pak Prof. Dien Syamsudin. Jika sudah di puncak orang cenderung akan turun, maka haji adalah justru momentum awal untuk lebih meningkat lagi ghirah atau semangat ibadah. Mengabdi kepada Allah, baik melalui ibadah mahdhah maupun ibadah ghayru mahdhah, segala sesuatu yang dijalankan lillaahi ta/ala.
Allaahumma yassirna ziyarata baytikal haram liaddaail hajja wal umrata. Aamiin.
_______
Lamongan, Rabu 29 April 2026.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar