_________
Dengan nada guyon, di satu ceramah, Pak Kyai optimis bahwa beliau akan berumur panjang karena ayah juga kakek beliau dikaruniai usia cukup panjang. he he he. Berkunjung ke teman, guru PAI, koq ya tidak menolak. Kebetulan abahnya juga masih ada, cukup sepuh hampir 80. Penulis belum sempat tanya atau ngobrol berlama-lama terkait usia harapan hidup dan takdir Atau untuk 'mendebat', karena tentang itu sepertinya ada harapan yang kurang menguntungkan untuk penulis he he he
Omong-omong dengan seorang tetangga, Pak Haji pensiunan polisi, ternyata menyetujui juga. Memang biasanya begitu, katanya. Beliau sendiri di usia 70 an masih tampak gagah dengan penampilan tenang dan kalem, bawaan sejak muda. Barangkali karena cukup mampu menjaga emosi, rajin mandi sebelum subuh dan ashar, tidak makan berlebihan, beliau cukup sehat. Tentu pernah sakit, tetapi setelahnya kini masih dapat beraktivitas dengan baik.
Penulis sering 'angen-angen' usia yang dikaruniakan pada ibu dan bapak penulis. Berdasar tanggal lahir yang tertera di KTP, keduanya meninggal pada usia relatif tidak panjang, 63 tahun. Bapak terlahir pada tahun 1941 meninggal pada 2004. Ibu penulis terlahir pada 1942 meninggal pada 2005. Bapak dipanggil di bulan Rajab, ibu di pertengahan Ramadhan di hari Jum'at. Kita selama ini mencatat 63 tahun itu seperti usia wafat Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. Terkait itu, penulis pun merasa ada semacam syukur atas kesamaan tersebut, wallahu a'lam.
Pada Senin 22 Desember 2025 tersebar berita duka berpulangnya ulama, tokoh masjid Jogokariyan Yogjakarta yang fenomenal. Ustadz Muhammad Jazir ASP, qadarullah juga wafat pada usia 63 tahun. Saat takziah, tokoh Anies Baswedan menyampaikan bahwa umur Ustadz Jazir relatif pendek tetapi gagasan, amal jariyahnya panjang, abadi. Lebih kurang demikian. Di sini kita diingatkan pentingnya kualitas usia.
Penulis yang kini 55 tahun kadang mengangan-angan barangkali kelak kembali kepada Allah pada usia seperti Bapak / Ibu dan Rasulullah shalallaahuv'alayhi wassalsm yakni 63 tahun. Jika penulis pensiun dari PNS pada tahun 2031 di usia 60, maka in sya Allah akan menghadap Ilahi pada 2034. Sesudah itu, diri ini tak lagi berada di permukaan bumi, terkubur di pemakaman.
Andai itu terjadi maka penulis tak akan lagi menyaksikan si Mbak, putri shalihah pertama, yang kala itu bertumbuh dewasa pada usia 31 tahun. Sementara si Adhik, putri shalihah kedua, akan berumur 25 tahun. Sedangkan istri yang menginjak 61 tahun juga sudah pensiun. Akankah itu terjadi? Wallaahu a'lam.
Mungkin justru sebelum persiun atau tak lama setelah menulis ini, entah sebab apa, penulis dipanggil menghadap-Nya. Innalillaahi wainna ilayhi raaji'uun. Atau mungkin pula penulis ditakdirkan berusia hingga 70 tahun bahkan lebih. Kebiasaan, bila itu betul kebiasaan, harapan hidup seseorang seperti orang tuanya, toh itu tak menjadi kebenaran atau kepastian. Jadi tak selalu betlaku. Ada alasan selalu optimis he he he.
*******
Sementara itu, dalam keseharian kadang kita terjebak pada kondisi yang tidak nyaman karena menyaksikan berbagai keadaan yang tak ideal, atau bahkan memprihatinkan. Syukur alhamdulillah perasaan demikian jadi berubah bila perhatian kita teralihkan pada keberadaan bocah-bocah kecil atau anak-anak muda yang kita temui. Kita lantas berpikir bahwa merekalah pelanjut kehidupan. Hidup mereka tentu umumnya lebih panjang dari kita yang telah cukup berusia. Kita tak seharusnya terlalu risau seakan lupa bahwa ada Allaah Yang Maha Hidup dan Maha Perkasa, Yang Tak Tidur dan Tak Mengantuk. Allah yang mengijinkan segala sesuatu terjadi atau tidak terjadi. Skenario kehidupan telah ada di Luhul Mahfudz.
Generasi muda adalah yang akan menghadapi atau menjalani segala situasi yang terus berkembang. Kita sewajarnya boleh khawatir terhadap hal-hal negatif yang terjadi, namun sejatinya merekalah yang akan merasakan dampak yang lebih lama dari kita. Perubahan-perubahan yang barangkali bakal terjadi, entah memburuk atau membaik, kita tidak akan terus mengikuti. Kita yang berumur tak mungkin selalu membersamai anak-anak kita tersayang, adik-adik kita, junior-junior kita. Menyadari itu, keprihatinan kita seakan menjadi terbagi bahwa ada yang akan menanggung beban peradaban. Namun kita pun makin sayang pada mereka dan tak tega bila tak berikhtiyar menyiapkan agar mereka kuat.
*******
Apakah narasi di atas membuat 'nglokro' atau hal yang tak bermakna, biasa saja-biasa saja, atau itu untuk bekal melangkah ke depan? Tentu saja refleksi atau muhasabah diri adalah untuk menjadi pijakan pertama, start, untuk melanjutkan langkah, berjalan tegap, berlari atau bahkan melompat terbang. Berbagai wujud semangat dapat dipilih sesuai kondisi, asal saja gerak tak pernah henti, nyala spirit berkemajuan tak mandeg apalagi menjadi kemunduran. Orang beriman tak akan putus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, umat Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam adalah manusia terbaik yang senantiasa ingin menebar manfaat untuk sesama, menjadai rahmat untuk seluruh alam. Andaikan esok kiamat, sementara di tangan masih ada sebutir benih, maka akan tetap ditanam oleh umat Nabi. Kita selalu semangat menapak hari-hari baru, in sya Allah.
_______
Lamongan, Kamis 1 Januari 2026 / 12 Sya'ban 1447 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar