Sabtu, 07 Februari 2026

Si Yusuf Merokok?


------- 


'Pak, niki murid sampean.' Mendapatkan kiriman foto anak merokok, sebagai wali kelas penulis kaget juga. 'Ono maneh,' pikir penulis. Hari sebelumnya, penulis baru menandatangani tulisan janji ratusan kali dari 4 anak. Ini ada 'problem' lagi, begitu istilahnya Bu Guru Via, wali kelas sebelah,, jika ada murid perwaliannya yang bermasalah.


Memperhatikan murid di gambar, penulis tidak cepat terpancing atau reaktif. Memang tanpa tunggu lama, foto itu langsung penulis teruskan ke guru BK, ke Bu Fifit. Namun,  melihat Yusuf Refran yang 'merokok', penulis pun jadi berpikir. Anak ini dalam hal akademik sementara belum menonjol  Namun keaktifannya di kegiatan kelas membuat penulis tak ingin mudah langsung menghakimi.


Ia bersama Fajar, ketua kelas,  sedia 'ngethok pring' memotong bambu dari desanya untuk bahan peraga pada karnaval dulu. Itu mengharukan. Ia juga bersama teman lainnya tanpa diperintah mengecat, menghias, dinding kelas, bahkan di ketinggian dengan panjat-panjat tangga. Itu mendahului penulis yang berencana panggil tukang.  Sewaktu ada lomba fashion show, si Yusuf ini yang  sedia mewakili kelas berpasangan dengan salah satu teman putri. Untuk ini tak mudah mencari  yang mau karena umumnya anak-anak malu tampil akting di atas catwalk.


Syukur alhamdulillah, sebelum ke kelasnya, ada teman-temannya, yang dapat dipercaya,  yang menerangkan bahwa kejadian di foto itu bukan kejadian yang sebenarnya. 'Itu AI, Pak. Itu editan Syahid Nur  dan dia yang kirim ke Bapak dengan HP-nya Rahardian'. Si Fabiano Aal, si juara kelas, meyakinkan. 


Penulis pun kroscek ke Bu Fit BK yang membenarkan bahwa itu gambar editan saja.


Sebenarnya penulis ingin menyampaikan bahwa mungkin anak-anak kelak merokok sebagaimana bapak-bapaknya. Tapi jika masih anak-anak sudah merokok tentu tidak pada tempatnya. Selain faktor kesehatan, itu juga merupakan pemborosan uang.  Perlu juga disampaikan beberapa pendapat atau pandangan tentang merokok. Merokok itu makruh hingga merokok itu haram. Merokok itu membunuhmu hingga banyak yang merokok umurnya lebih panjang dari yang tidak merokok he he he.


Untuk urusan merokok, sejak masa muda dulu,  penulis tidak biasa merokok kecuali jika membersamai 1, 2 teman tertentu saja. 

_______

Minggu, 11 Januari 2026

Tubuhmu Malas, Andai Tak Ada Perintah Shalat Subuh

_________

Andai tak ada ajaran perintah shalat Subuh  tentu tak kuat alasan untuk bangun sebelum terbit mentari. Kita akan menjadi orang malas, hidup tak sehat karena melewatkan udara segar dan keindahan pagi  Andai tak ada perintah shalat Dhuhur, kurang pertimbangan untuk atur jadwal aktivitas siang.  Andai tak ada perintah shalat Ashar, pasti banyak yang mengakhiri kegiatan sehari-hari dengan muka muram, lelah yang kurang bermakna. Andai tak ada perintah shalat Maghrib, maka malam akan disongsong dengan rasa tak nyaman. Andai tak dikerjakan shalat  Isya', tidur tak dapat nyenyak, mimpi buruk, kurang istirahat, melemahkan kesehatan dan meredupkan harapan untuk hari esok.

Andai tak ada ajaran untuk bersuci, wudhu, mandi junub, tayamum, tentu kurang alasan menjaga kebersihan, untuk menjamin kesehatan jasmani dan rohani. Andai tak ada perintah agar makan halalan thayyiban, maka yang ada perilaku ngawur memenuhi kebutuhan badan. Andai tak ada ajaran menikah, maka pemenuhan hajat biologis akan menyerupai cara binatang. Andai tak ada perintah berlaku adil, maka hukum rimba yang akan diberlakkukan. Kehidupan dunia dibuat tak aman, tak nyaman. Berbuat saling semaunya yang akan menciptakan kerusakan dan kehancuran.

Andai tak ada konsep tauhid 'laailaaha illallah' 'tiada tuhan selain Allah', aksn membuat kehidupan yang tak teratur, terjadi hegemoni makhluk satu terhadap lainnya. Tidak ada kesetaraan sesama manusia. Kebodohan tidak terkoreksi dan berlanjut pada pengagungan yang tak semestinya. Terjadi kejahiliahan pemujaan pada kuburan, gunung, laut, matahari, betbagai berhala, termasuk pengkultusan atau pendewaan pada manusia. Mudah terjadi penindasan satu terhadap lainnya. Tidak akan ada kebebasan hidup sejati. Konsep tauhid mengoreksi dan meluruskan semua.

Andai tak ada manusia mulia utusan Tuhan, yang mendapatkan bimbingan langsung dari langit, untuk menjadi rujukan di bumi, teladan dalam kehidupan, siapa yang patut ditiru? Siapa yang menjadi penengah dari berbagai perselisihan? Para musuh saja segan kepadanya. Ia satu-satunya manusia yang paling dicinta oleh para sahabat dan pengikutnya. Ia manusia paling paripurna dalam sejarah penciptaan umat manusia. Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam penghulu para utusan Tuhan. Beliau dihadirkan seiring skenario rencana penciptaan alam. Andai tak ada rencana penciptaan Rasulullah Muhammad, tak ada pula rencana penciptaan seluruh manusia dan alam. Wallaahu a'lam.

Andai tak ada keimanan dan pengetahuan tentang semua di atas, tidak ada petunjuk dan tuntunan Tuhan pada kita. Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'amma yashifuun wassalaamun 'alal mursaliin walhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.

_______ 

Ahad 22 Rajab 1447 H / 11 Januari 2026

ģ

Kamis, 01 Januari 2026

Menapak Hari Baru Semangat 55, Bukan Refleksi Akhir Tahun Tapi Akhir Usia


_________ 

Dengan nada  guyon, di satu ceramah, Pak Kyai optimis bahwa beliau akan berumur panjang karena ayah juga kakek beliau dikaruniai usia cukup panjang. he he he. Berkunjung ke teman, guru PAI, koq ya tidak menolak.  Kebetulan abahnya juga masih ada, cukup sepuh hampir 80.  Penulis belum sempat tanya atau ngobrol berlama-lama terkait usia harapan hidup dan takdir  Atau untuk 'mendebat',  karena tentang itu sepertinya ada harapan yang kurang menguntungkan untuk penulis he he he

Omong-omong dengan seorang tetangga, Pak Haji pensiunan polisi, ternyata menyetujui juga.  Memang biasanya begitu, katanya. Beliau sendiri di usia 70 an masih tampak gagah dengan penampilan tenang dan kalem, bawaan sejak muda. Barangkali karena cukup mampu menjaga emosi, rajin mandi sebelum subuh dan ashar, tidak makan berlebihan, beliau cukup sehat. Tentu pernah sakit, tetapi setelahnya kini masih dapat beraktivitas dengan baik.

Penulis sering 'angen-angen' usia yang dikaruniakan pada ibu dan bapak penulis. Berdasar tanggal lahir yang tertera di KTP, keduanya meninggal pada usia relatif tidak panjang, 63 tahun. Bapak terlahir pada tahun 1941 meninggal pada 2004. Ibu penulis terlahir pada 1942 meninggal pada 2005. Bapak dipanggil di bulan Rajab, ibu di pertengahan Ramadhan di hari Jum'at. Kita selama ini mencatat 63 tahun itu seperti usia wafat Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. Terkait itu, penulis pun merasa ada semacam syukur atas kesamaan tersebut, wallahu a'lam. 

Pada Senin 22 Desember 2025 tersebar berita duka  berpulangnya ulama, tokoh masjid Jogokariyan Yogjakarta yang fenomenal. Ustadz Muhammad Jazir ASP, qadarullah juga wafat pada usia 63 tahun. Saat takziah, tokoh Anies Baswedan menyampaikan bahwa umur Ustadz Jazir relatif pendek tetapi gagasan, amal jariyahnya panjang, abadi. Lebih kurang demikian. Di sini kita diingatkan pentingnya kualitas usia.

Penulis yang kini 55 tahun kadang mengangan-angan barangkali kelak kembali kepada Allah pada usia seperti Bapak /  Ibu dan Rasulullah shalallaahuv'alayhi wassalam yakni 63 tahun. Jika penulis pensiun dari PNS pada tahun 2031 di usia 60, maka  in sya Allah akan menghadap  Ilahi pada 2034. Sesudah itu, diri ini tak lagi berada di permukaan bumi, terkubur di pemakaman.

Andai itu terjadi maka penulis tak akan lagi menyaksikan  si Mbak, putri shalihah  pertama, yang kala itu bertumbuh dewasa pada usia 31 tahun. Sementara si Adhik, putri shalihah kedua, akan berumur 25 tahun. Sedangkan istri yang menginjak 61 tahun juga sudah pensiun. Akankah itu terjadi? Wallaahu a'lam. 

Mungkin justru sebelum persiun atau tak lama setelah menulis ini, entah sebab apa, penulis dipanggil menghadap-Nya. Innalillaahi wainna ilayhi raaji'uun. Atau mungkin pula penulis ditakdirkan berusia hingga 70 tahun bahkan lebih. Kebiasaan, bila itu betul kebiasaan, harapan hidup seseorang seperti orang tuanya, toh itu tak menjadi kebenaran atau kepastian. Jadi tak selalu betlaku. Ada alasan selalu optimis he he he.

*******

Sementara itu, dalam keseharian kadang kita terjebak  pada kondisi yang tidak nyaman karena  menyaksikan berbagai keadaan yang tak ideal, atau bahkan memprihatinkan. Syukur alhamdulillah perasaan demikian jadi berubah bila perhatian kita teralihkan pada keberadaan bocah-bocah kecil atau anak-anak muda yang kita temui. Kita lantas berpikir bahwa merekalah pelanjut kehidupan. Hidup mereka tentu umumnya lebih panjang dari kita yang telah cukup berusia. Kita tak seharusnya terlalu risau seakan lupa bahwa ada Allaah Yang Maha Hidup dan Maha Perkasa, Yang Tak Tidur dan Tak Mengantuk.  Allah yang mengijinkan segala sesuatu terjadi atau tidak terjadi. Skenario kehidupan telah ada di Luhul Mahfudz.

Generasi muda adalah yang akan menghadapi atau menjalani segala situasi yang terus berkembang. Kita sewajarnya boleh khawatir terhadap hal-hal negatif yang terjadi,  namun sejatinya merekalah yang akan merasakan dampak yang lebih lama dari kita. Perubahan-perubahan yang barangkali bakal terjadi, entah memburuk atau membaik, kita tidak akan terus mengikuti. Kita yang berumur tak mungkin selalu membersamai anak-anak kita tersayang, adik-adik kita, junior-junior kita. Menyadari itu, keprihatinan kita seakan  menjadi terbagi bahwa ada yang akan menanggung beban peradaban. Namun kita pun makin sayang pada mereka dan tak tega bila tak berikhtiyar menyiapkan agar mereka kuat. 

*******

Apakah narasi di atas membuat 'nglokro' atau hal yang tak bermakna, biasa saja-biasa saja, atau itu untuk bekal melangkah ke depan? Tentu saja refleksi atau muhasabah diri adalah untuk menjadi pijakan pertama, start, untuk melanjutkan langkah, berjalan tegap, berlari atau bahkan melompat terbang. Berbagai wujud semangat dapat dipilih sesuai kondisi, asal saja gerak tak pernah henti, nyala spirit berkemajuan tak mandeg apalagi menjadi kemunduran. Orang beriman tak akan putus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, umat Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam adalah manusia terbaik yang senantiasa ingin menebar manfaat untuk sesama, menjadai rahmat untuk seluruh alam. Andaikan esok kiamat, sementara di tangan masih ada sebutir benih, maka akan tetap ditanam oleh umat Nabi. Kita selalu semangat menapak hari-hari baru, in sya Allah.

_______ 

Lamongan, Kamis 1 Januari 2026 /  12 Sya'ban 1447 H.


Sabtu, 27 Desember 2025

Tinggalkan Gagasan Segar untuk Masjid, Ustadz Jazir Jogokariyan Telah Berpulang


Buka masjid 24 jam. Nyalakan terus lampu di malam hari. Biar saja orang datang hanya untuk ke toilet. Beri kopi susu untuk jamaah Subuh. Tingkatkan doorprize dengan hadiah umrah. Nol-kan saja kas masjid. Berikan pada yang butuh jemput pasien di RS. Berikan seluruhnya, biar untuk berobat jalan juga. Dalam 4 bulan dapat infaq 7 milyar, dibelikan hotel di Kaliurang. Bangun Jogokariyan 2, 3. Demikian penggalan-penggalan gagasan dan praktik pengelolaan masjid oleh Ustadz Muhammad Jazir. Masih banyak lainnya, yang tak semua dapat dituliskan. Belum lagi pemikirannya dan pengetahuannya tentang sejarah bangsa. Penjelasannya mudah dicerna. Mengikuti taushiah Ustadz Jazir selain memperoleh pengetahuan dan pemahaman agama, kita rasanya menjadi melek, cerdas dan terhibur.

Berhari-hari, hingga hari ini, masih muncul pemberitaan atau postingan tentang Ustadz Jazir atau KH Muhamnad Jazir ASP Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Yogjakarta yang wafat pada Senin 22 Desember 2025 lalu. Seperti mendung yang masih menggelayut di langit dan sewaktu-waktu menurunkan  hujan, demikianlah kaum muslimin yang lagi-lagi tertegun haru mengenangnya. Bicaranya lugas, rasional, menarik, menuntun pada bagaimana yang terbaik untuk masjid. Potongan-potongan video taushiah atau wawancaranya diputar ulang dan membuat banyak orang seakan baru sadar tentang apa yang dikatakannya. Ide-ide atau gagasan segarnya terlihat bagaimana ia ingin masjid menjadi oase sekaligus penggerak kehidupan serta pusat peradaban. Orang mengingat lagi kiprah beliau yang menasonal bahkan menyebar hingga manca negara.

Banyak yang terperanjat saat ia mengatakan sandal hilang, sepatu hilang milik orang yang shalat di masjid akan diganti baru dengan merek sama. Bahkan ditingkatkan, sepeda motor hilang pun akan diganti. Orang shalat di masjid mestinya dapat tenang, khusuk tanpa rasa khawatir. Takmir haruslah bertanggung jawab terhadap kenyamanan dan keamanan jamaah. Pengurus takmir masjid juga jangan diisi orang kikir. Saldo kas masjid jangan ditumpuk, harus di-nolkan untuk melayani jamaah dan masyarakat yang membutuhkan. Menara masjid adalah untuk melihat kondisi warga sekitar bukan sekedar keindahan. Robohkan saja menara itu jika tak berfungsi. Jual saja pengeras suara jika masjid tidak membuat warga sekitar sejahtera. Imam shalat jangan tak kenal siapa yang shalat bersamanya. Ia hendaknya merupakan imam  masjid yang  mengetahui apa yang dihadapi jamaahnya. Masjid selain menjadi tempat yang nyaman beribadah hendaklah menjadi tempat solusi masalah dan bahkan penggerak muamalah.

Tokoh yang secara fisik, mohon maaf bila tak tepat, perawakan tinggi besar gagah dengan vokal lantang tetapi ramah ini mengingatkan kita pada sosok pelawak Tarzan (Toto Muryadi). Ustadz Jazir tidak melucu, tetapi tampaknya senang guyon juga. Sikap tegas Ustadz Jazir tak menutupi keramahannya. Beliau betmuka cerah, senang tersenyum, candaannya cerdas, menggelitik, kritis dan mengajarkan makna atau kedalaman pemahaman dari pengamalan syariat Islam yang diajarkan Rasulullah Muhammad shallallaahi 'alayhi wassalam. Pemikirannya, misalnya Ust. Derry Sulaiman menyebut out of box, memberikan pencerahan dan bahkan terobosan untuk dakwah dan memberdayakan umat Islam.

Jejak digital sosok aktivis masjid ini mudah dilacak dan in sya Allah akan sering dilihat umat Islam.  Beliau pantas dikenang, ditengok lagi perjalanan hidupnya. Ustadz Jazir pantas  menjadi cermin, rujukan atau motivasi kita orang beriman untuk menggapai ridha Allah Ta'ala, khususnya untuk memakmurkan masjid dan membuat masjid memakmurkan umat. Kehidupan sosok tokoh masjid Jogokariyan ini mungkin oleh sebagian orang baru disadari saat kepergiannya. Ia diantar puluhan ribu pelayat menuju komplek pemakaman tempat peristirahatan pahlawan nasional KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Betapa ia dimuliakan oleh warga Muhammadiyah, khususnya warga Jogokariyan Yogjakarta, sehingga memakamkannya di sana. Ustadz Jazir meninggal di usia 63 tahun, seperti usia wafat Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. Biarpun di usia relatif pendek tetapi peninggalan, amal jariyahnya, pasti berusia panjang, abadi. Tokoh Anies Baswedan pun menyampaikan demikian. Ma sya Allah. Tabarakallah.

_______ 

Lamongan, Sabtu,27 Desember 2025 / 7 Rajab 1447 H.





Kamis, 25 Desember 2025

Diuji Bagaimana Melihat Musibah



______

Kenapa Aceh lagi yang kena musibah? Terlintas pertanyaan di hati sebagian orang.  Apakah orang Aceh sedang diazab? Astaghfirullah. Yang bertanya mungkin sedang dibisiki syetan agar merasa lebih suci, tak punya dosa dan lebih disayang Allah. Atau mungkin ia sedang mencoba berpikir kritis. Namun, bukankah di sana sudah damai, tak ada aktivitas GAM? Apakah masih ada ladang ganja di sana? Apakah orang Aceh kurang bersyukur dan sudah lupa musibah tsunami tahun 2004 yang menelan korban 200 ribu lebih nyawa? Hmm..lagi-lagi bila terlintas tanya seperti itu kita pun harus introspeksi diri apakah kita sudah termasuk hamba Allah yang bersyukur? Apakah telah ada bukti syukur berupa ibadah yang maksimal, sungguh-sungguh dan makin meningkat kualitasnya?

Musibah bencana pada 26 November 2025 di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat  mengingatkan banyak orang pada peristiwa, yang mungkin ada yang lupa, lalai, musibah tsunami Aceh pada 26 Desember tahun 2004 21 tahun lampau. Kejadian sekarang sementara tercatat ratusan meninggal serta ratusan lainnya belum ditemukan, semoga tak lebih dari 2000 orang atau jauh di bawah angka itu. Namun bencana itu sempat membuat 2 juta orang mengungsi. Sementara dampak kerusakan amat parah akibat hantaman tanah longsor,  banjir air, lumpur dan gelondongan kayu besar-besar. Ada yang mengatakan kerusakan lebih parah, lebih sulit dibenahi,  dari sebab tsunami dulu. Bercampur kepiluan dengan kegeraman karena terbuktinya tangan-tangan kekuasaan modal dan keserakahan yang mengeksploitasi alam dengan membuat kerusakan hutan dan ekosistem kehidupan. Pemerintah yang berupaya mengatasi sendiri tanpa bantuan asing G to G, enggan menetapkan sebagai bencana nasional, juga melahirkan kontroversi.

Di sisi lain dalam hal terjadinya korban meninggal, warga Aceh lagi-lagi berkesempatan mudah menjadi syahid atau syahidah akibat bencana. Orang lain yang merasa aman sejatinya justru sedang beresiko dalam hadapi kehidupan yang penuh kemunafikan, kefasikan, kesyirikan atau bahkan akhir hayat su'ul khatimah, astaghfirullah na'udzubillah  min dzaalik. Hampir tidak ada yang menyalahkan korban, hanya empati atau simpai. Kita yang masih hidup, kita yang menyaksikan musibah, sesungguhnyalah yang  kini sedang diuji. Yang wafat telah selesai dari tugas yang diemban di dunia, tinggal menunggu hasilnya. Semoga diampunkan atas khilaf,, diterima segala ibadah dan kebaikan yang telah dilakukan. Demikian pula  kita  yang masih dapat melek ini, semoga kelak dapat  menjawab pertanyaan dengan baik, di antaranya,  tentang sikap kita terhadap musibah yang ada.

_______ 

Lamongan, Senin 25 Desember 2025 / 5 Rajab 1447 H

Selasa, 09 Desember 2025

Memahami Kehidupan Sambil Berjalan




_______ 

Apa artinya hidup kita jika sejak awal malaikat telah tahu bahwa manusia cenderung membuat kerusakan di bumi bahkan menumpahkan darah sesama? Yang namanya bencana alam pun ternyata,  bila tak sepenuhnya kini sebagiannya, akibat ulah tangan manusia. Banjir bandang di akhir tahun 2025 di Sumatera tak hanya melarikan air dan lumpur tetapi juga gelondongan-gelondongan kayu  yang tidak dipotong oleh air, angin, gempa atau petir.

Meski sempat mencoba mempertanyakan, sewaktu malaikat  disuruh menyebutkan nama-nama apa yang ada, makhluk taat itu tak mampu. Namun saat dialihkan perintah itu ke manusia, dijawablah dengan baik. Tidak seperti iblis yang sombong, malaikat pun menurut ketika disuruh sujud menghormat pada manusia. 

Hidup seorang manusia di dunia ini singkat bila dibanding masa sebelum ia dilahirkan ke dunia atau juga dibanding kehidupan akhirat kelak yang kekal abadi. Apalagi pada masa sekarang, setahun serasa bagai sebulan, sebulan bagai sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti satu jam. Waktu berjalan seakan kian cepat saja.

Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang terbaik amalnya, sebagaimana kita baca di awal surah Al Mulk. Jadi apa pun yang kita kerjakan selama hidup kelak akan dinilai, dihisab,, serta akan menentukan jenis balasan yang didapat dalam kehudupan abadi di akhirat. 

Sementara pilihan sikap hidup sudah mempengaruhi keadaan di dunia. Orang kaya bergelimang harta selalu terlihat tak tenang hidupnya jika tak beriman dan tidak shalat. Begitu juga orang berpangkat, populer. Bahkan yang berilmu yang tak beriman pun gersang hidupnya. Tentu miskin tapi beriman itu belum pilihan ideal, jika dapat memilih rejeki yang diibginkan.

Bukan berarti yang beriman dan rajin shalat tak bermasalah.  Malah makin tinggi iman makin tinggi pula ujiannya. Namun mahasiswa S3 akan lebih tenang hadapi ujiannya dengan pertolongan Allah dari pada anak SMA yang gelisah hadapi ulangan jika ia melupakan kewajiban agama, begitulah ibaratnya. Allah tak menguji hamba-Nya kecuali sesuai keadaan atau kemampuan. Orang beriman selalu yakin atas pertolongan Allah, maka biar banyak ujisn nsmun tetap tampak tenang 

Orang beriman boleh sedih tapi sewajarnya. Orang beriman boleh gembira tapi sekedarnya saja. Di situlah keindahan hidup orang beriman. Memahami kehidupan pun sambil berjalan telusuri belantara atau arungi samudera kehidupan itu sendiri. 

__________ 

Selasa, 9 Des. 2025




Kamis, 04 Desember 2025

Mehamami Bencana yang Jadi Bencana

_______

Bila kita melakukan dosa besar, kesalahan yang membuat Allah benci, merugikan sesama dan alam, menghinakan diri sendiri, itulah bencana. Na'udzubillah. Bila kita mengakhiri hidup dalam keadaan syirik, ingkar, munafik, fasik, itu adalah bencana. Na'udzubillah mindzaalik. Bencana yang terjadi akibat ulah diri secepatnya harus disadari dengan taubat yang sesungguhnya, taubatan nashuha.

Akibat dari suatu perbuatan tak selalu hanya menimpa pelaku tetapi yang sering kali terjadi adalah akan menimpa semua, secara umum. Seorang penumpang kapal atau perahu yang melubangi tempatnya sendiri beresiko tak hanya dia yang dia tenggelam, juga seluruh penumpang kapal. Demikianlah, maka dalam kehidupan sosial ada perintah mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, amar ma'ruf nahi munkar.

Kiamat kubra adalah kehancuran seluruh alam semesta. Kiamat sughra adalah kematian diri, berpisahnya nyawa dari raga, terkuburnya kita dan berpisahlah dari keluarga dan segala yang dicinta di dunia. Kematian adalah kepastian yang datangnya tak terduga. Ajal tiba tak selalu didahului sakit, usia tua. Sering kali terkesan begitu tiba-tiba datangnya sang malakul maut.

Memahami bencana, musibah, kematian dan apa pun, orang beriman dibimbing oleh Kutabullah Al Qur'an. Akal kita kecil sekali kemampuannya. Sayang, kesombongan diri akan menutup mata hati. Memahami bencana tanpa bimbingan Kitabullah adalah bencana yang tak disadari oleh orang bodoh, orang yang tak peroleh petunjuk atau hidayah Allah subhaanahu wata'ala. 

_______

Kamis, 4 Desember 2025

Si Yusuf Merokok?

-------  'Pak, niki murid sampean.' Mendapatkan kiriman foto anak merokok, sebagai wali kelas penulis kaget juga. 'Ono maneh,...