Aku tak ndik kene sik yo, Mas Kacung? Lak durung tutup seh? Demikian Pak Kacung tukang potong rambut dekat pertigaan / perempatan Mayangkara menirukan ucapan Mas Toyo setelah dipotong rambutnya Selasa malam. Saat itu sudah pukul 9. Ada satu pelanggan lain yang masih di sana, lalu datang lagi, satu tetangga. Setelah cukup jenak santainya, hingga seperempat jam kemudian baru pamit.
Mas Toyo juga almarhum ayahnya dahulu langganan kesini, serta ada keponakan kecilnya yang tinggal di Tuban mau dipotong rambutnya kalau kesini. Lha, belum sampai sehari Rabu sore koq sudah meninggal, kenang Pak Kacung. Hmm...berarti sebelum pergi potong dulu. Setelahnya pun ingin berlama-lama, anggaplah pamitan. Rabu pagi masih berangkat kerja, siang sudah menghadap Sang Pencipta. Inalillaahi wainna ilayjhi raajin.
Ceritanya, dokter mendiagnosa itu serangan jantung. Kepergian yang mendadak sosok low profile, rendah hati, juga humoris ini mengagetkan tak hanya keluarga dan kerabat tetapi juga sahabat, teman, rekanan serta semua yang pernah mengenalnya. Dahulu aktifitasnya di luar kota, di antaranya terkait tambang minyak Blok Cepu. Pernah juga yang terkait USAID. Akhir-akhir ini sebagai fasilitator teknis pembangunan infrastruktur, sebuah profesi yang diakui secara nasional melaluo standar kompetensi yang diuji Badan Nadoonal Sertifikasi Profesi (BNSP Fasilitattor Profesi).
Penulis beberapa hari lalu menduga akan bertemu dengannya pekan ini pada rapat yang dijadwalkan Sabtu malam atau malam Ahad besok. Asal tidak sedang keluar kota, misalnya, Mas Toyo suka menyempatkan hadir saat ada undangan pertemuan. Termasuk pertemuan di tingkat daerah, beliau mengusahakan kesediaan ikut mewakili apalagi jika banyak teman pengurus yang sedang repot atau sibuk. Pertengahan April lalu pada Halal Bi Halal dan Musypimda II kami bertemu untuk terakhir kali. Sebelum dan di sela acara kami ngobrol, bincang ringan hingga saat coffee break Mas Toyo pamit keluar untuk merokok.
Sementara sebelum bulan Ramadhan, seperti kesan Bu Eliz, ketua ortom PCNA,, kami terkesan dengan presentasi Mas Toyo sebagai seorang sarjana teknik. Mas Toyo diminta membuat rancangan renovasi asrama pondok pesantren. Dengan komputer dan layar lebar Mas Toyo memberikan panduan dan pandangan yang harus dikerjakan. Beliau welcome terhadap pertanyaan dan pendapat.
Mas Toyok, atau teman sekolahnya panggil dia Arif, memang suka gaya santai tak memaksakan kehendak pribadi, tentu dengan tetap menjaga sikap profesional keilmuannya. Low profile itulah kelebihan yang barangkali menginspirasi. Di saat banyak orang butuh validasi, ia seperti menikmati tampil di belakang layar. Ia berusaha berakhlak yang baik pada orang Lain. Ma sya Allah.
Ajalmu telah tiba, Mas Toyo. Sesuatu yang tak dapat dimajukan atau dimundurkan. Terlepas apa pun sebab meninggalmu. Tugas hidup dengan peran menjadi bagian keluargamu, anggota masyarakat, termasuk berada dalam barisan pengemban dakwah telah usai, yakni sebagai salah satu Wakil Ketua PCM.Mantup. Semoga banyak amal jariyah yang terus menemanimu menghadap Allah. Sebagai manusia biasa seperti kami, semoga diampunkan dosa-dosa atau khilafmu.
Allaahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. Allaahumma latahrimna ajrahu walaataftinna ba'dahu waghfirlana walahu. Aamiin.
Mantup, Kamis 11 Juni 2026
_______

Tidak ada komentar:
Posting Komentar