Kamis, 19 Maret 2026

Ketika Berpisah dari Kenikmatan dan Keindahan Bulan Ramadhan 1447 H 2026.


_______

Bulan puasa Ramadhan 1447 H yang usai meninggalkan banyak catatan untuk kita renungi. Pertama, bila target ibadah adalah ketaqwaan, maka kita harus merasa belum banyak yang dikerjakan. Kita belum maksimal memanfaatkan dan menikmati bulan suci momen dilipatgandakan balasan amal shalih ini. Kita mungkin sudah semangat ibadah tetapi masih mudah terjebak sibuk dengan urusan yang tidak sepatutnya merepotkan, yang lalu mengurangi kekhusukan berada di situasi istomewa ini. Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa ra'fu'anniy. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Pemaaf, suka memaafkan, maka maafkanlah aku

Yang kedua, bulan Ramadhan penuh keindahan untuk orang beriman. Tidak mudah menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa. Kita mendapatkan ghirah yang tinggi untuk ibadah mahdhah, yang fardhu maupun yang sunnah, namun kita tetap terus bekerja, belajar atau beraktivitas yang bermacam-macam. Bersyukurlah kita, di tengah kepayahan dan jatuh bangun membina diri, kita selalu merasa gembira atau  terhibur di saat berbuka. Kita berdoa agar dapat masuk surga dan terhindar dari api neraka, serta ingin berjumpa dengan Allah sebagai puncak pengharapan. Itulah mengapa muka orang beriman yang berpuasa selalu menyiratkan kecerahan dan ketenangan. Ada keindahan yang hanya dirasakan orang beriman. 

Perlu dicatat juga, bulan Ramadhan adalah momentum penigkatan kualitas diri. Jatuh bangun kita beribadah dan melakukan berbagai kegiatan selama sebulan adalah agar kita menjadi hamba Allah yang semestinya. Kita  realistis dengan apa yang sudah dapat kita kerjakan. Yang terasa baik tampak jelas harus ditambah dan ditingkatkan. Sementara yang masih buruk kita mohonkan ampun dan belajar sepenuh hati untuk mengganti dengan kebaikan.  Bulan Ramadhan adalah bulan refleksi diri agar meningkat untuk sebelas bulan berikutnya. Barangkali kita perlu membuat semacam rekomendasi pribadi agar lebih nyata apa yang perlu dikerjakan di depan. 

                     *******

Shalat kita belum sempurna. Bacaan atau doa dalam shalat belum sepenuhnya kita hafal dan belum kita  pahami maknanaya. Barangkali itu di antara penyebab kita sering gagal khusuk. Mungkin masih terjafi kita kurang tepat waktu atau terlambat ke masjid berjamaah. Kita diingatkan bahwa baik buruk amal kita tergantung shalat kita. Baik buruk nasib kita di dunia dan akhirat amat ditentukan oleh shalat kita.

Sedangkan puasa kita mungkin masih sebatas menahan lapar dan dahaga walau tentu kita berharap puasa kita, rukuk kita, sujud kita, shadaqah kita, bacaan Al Qur'an kita diterima Allah subhanahu wata'ala. Semoga sikap, perilaku, ucapan, pikiran atau perasaan kita tidak ada yang membawa pada batalnya puasa kita. Kita berharap rahmat Allah. Semoga Allah Ta'ala mengampunkan dosa serta menutup kekhilafan atau kebodohan kita.

Meskipun kita telah menahu dan seringkali diingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Qur'an, namun kita belum memanfaatkan momen ini. Kita membaca Al Qur'an masih amat sedikit meski diingatkan bahwa membaca satu huruf saja dijanjikan sepuluh kebaikan, apalagi bila lebih dari itu,  hinhga khatam, misalnya. Yang lebih hebat lagi tentu bila kita tak membaca sekedar di kerongkongan, tetapi berusaha memahami. Membaca terjemahannya serta meneliti berbagai tafsirnya  adalah salah satu caranya. 

Berikutnya, dalam hal beribadah maaliyah, dengan maal atau harta, kita perlu jujur dan ikhlas menghitung. Apakah yang telah kita infaqkan itu sudah proporsional sesuai tuntunan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wassalam atau belum. Shadaqah kita belum maksimal. Termasuk dengan yang berupa pikiran, tenaga, waktu tentu perlu kita koreksi lagi. Apakah kita mengikuti perniagaan dengan Allah? Apakah kita sudah bersungguh-sungguh menempuh jalan Allah?

Akhirnya, buah atau dampak  ibadah kita pun secara obyektif harus dapat dilihat secara nyata. Akhlak kita kepada orang tua, para pendahulu, guru, pimpinan, keluarga, tetangga, teman, murid dan generasi penerus hendaknya sejalan dengan yang diteladankan Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. 

                                                               *******

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri,1 (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.

                                                                                    (QS. 3 Ali Imran: 133 - 136)

_______ 

Lamongan, Kamis 19 Maret 2026 / 30 Ramadhan 1447 H

-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Berpisah dari Kenikmatan dan Keindahan Bulan Ramadhan 1447 H 2026.

_______ Bulan puasa Ramadhan 1447 H yang usai meninggalkan banyak catatan untuk kita renungi. Pertama, bila target ibadah adalah ketaqwaan, ...