_______
Bulan puasa Ramadhan 1447 H yang usai meninggalkan banyak catatan untuk kita renungi. Pertama, bila target ibadah adalah ketaqwaan, maka kita harus merasa belum banyak yang dikerjakan. Kita belum maksimal memanfaatkan dan menikmati bulan suci momen dilipatgandakan balasan amal shalih ini. Kita mungkin sudah semangat ibadah tetapi masih mudah terjebak sibuk dengan urusan yang tidak sepatutnya merepotkan, yang lalu mengurangi kekhusukan berada di situasi istomewa ini. Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa ra'fu'anniy. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Pemaaf, suka memaafkan, maka maafkanlah aku
Yang
kedua, bulan Ramadhan penuh keindahan untuk orang beriman. Tidak mudah menahan
lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa. Kita mendapatkan ghirah
yang tinggi untuk ibadah mahdhah, yang fardhu maupun yang sunnah, namun kita
tetap terus bekerja, belajar atau beraktivitas yang bermacam-macam.
Bersyukurlah kita, di tengah kepayahan dan jatuh bangun membina diri, kita
selalu merasa gembira atau terhibur di saat berbuka. Kita berdoa agar
dapat masuk surga dan terhindar dari api neraka, serta ingin berjumpa dengan
Allah sebagai puncak pengharapan. Itulah mengapa muka orang beriman yang
berpuasa selalu menyiratkan kecerahan dan ketenangan. Ada keindahan yang hanya
dirasakan orang beriman.
Perlu
dicatat juga, bulan Ramadhan adalah momentum penigkatan kualitas diri. Jatuh
bangun kita beribadah dan melakukan berbagai kegiatan selama sebulan adalah
agar kita menjadi hamba Allah yang semestinya. Kita realistis dengan apa
yang sudah dapat kita kerjakan. Yang terasa baik tampak jelas harus ditambah
dan ditingkatkan. Sementara yang masih buruk kita mohonkan ampun dan belajar
sepenuh hati untuk mengganti dengan kebaikan. Bulan Ramadhan adalah bulan
refleksi diri agar meningkat untuk sebelas bulan berikutnya. Barangkali kita
perlu membuat semacam rekomendasi pribadi agar lebih nyata apa yang perlu
dikerjakan di depan.
*******
Shalat
kita belum sempurna. Bacaan atau doa dalam shalat belum sepenuhnya kita hafal
dan belum kita pahami maknanaya. Barangkali itu di antara penyebab kita
sering gagal khusuk. Mungkin masih terjafi kita kurang tepat waktu atau
terlambat ke masjid berjamaah. Kita diingatkan bahwa baik buruk amal kita
tergantung shalat kita. Baik buruk nasib kita di dunia dan akhirat amat
ditentukan oleh shalat kita.
Sedangkan
puasa kita mungkin masih sebatas menahan lapar dan dahaga walau tentu kita
berharap puasa kita, rukuk kita, sujud kita, shadaqah kita, bacaan Al Qur'an
kita diterima Allah subhanahu wata'ala. Semoga sikap, perilaku, ucapan, pikiran
atau perasaan kita tidak ada yang membawa pada batalnya puasa kita. Kita
berharap rahmat Allah. Semoga Allah Ta'ala mengampunkan dosa serta menutup
kekhilafan atau kebodohan kita.
Meskipun
kita telah menahu dan seringkali diingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan
turunnya Al Qur'an, namun kita belum memanfaatkan momen ini. Kita membaca Al
Qur'an masih amat sedikit meski diingatkan bahwa membaca satu huruf saja
dijanjikan sepuluh kebaikan, apalagi bila lebih dari itu, hinhga khatam,
misalnya. Yang lebih hebat lagi tentu bila kita tak membaca sekedar di
kerongkongan, tetapi berusaha memahami. Membaca terjemahannya serta meneliti
berbagai tafsirnya adalah salah satu caranya.
Berikutnya,
dalam hal beribadah maaliyah, dengan maal atau harta, kita perlu jujur dan
ikhlas menghitung. Apakah yang telah kita infaqkan itu sudah proporsional
sesuai tuntunan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wassalam atau belum. Shadaqah
kita belum maksimal. Termasuk dengan yang berupa pikiran, tenaga, waktu tentu
perlu kita koreksi lagi. Apakah kita mengikuti perniagaan dengan Allah? Apakah
kita sudah bersungguh-sungguh menempuh jalan Allah?
Akhirnya,
buah atau dampak ibadah kita pun secara obyektif harus dapat dilihat
secara nyata. Akhlak kita kepada orang tua, para pendahulu, guru, pimpinan,
keluarga, tetangga, teman, murid dan generasi penerus hendaknya sejalan dengan
yang diteladankan Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam.
*******
Dan
bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
(yaitu)
orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai
orang yang berbuat kebaikan,
dan (juga)
orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri
sendiri,1 (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas
dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Balasan
bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik
pahala bagi orang-orang yang beramal.
(QS. 3 Ali Imran: 133 - 136)
_______
Lamongan,
Kamis 19 Maret 2026 / 30 Ramadhan 1447 H
-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar