Minggu, 24 Agustus 2025

Jangan Suruh Anak Hebat Seperti Suruh Ikan Terbang, Burung Berenang

_______

Seorang siswi SMP memakai kostum karnival dengan ongkos sewa 1.800.000 rupiah. Ibu bapakmya bekerja di Malaysia yang membayarnya.Tampaknya mereka menginginkan putrinya tampil cantik, menarik, berjalan di atas catwalk panjang beberapa kilo meter jalan propinsi, disaksikan ribuan pasang mata. Saran guru, jauh sebelum hari karnaval agustusan, yang memberi alternatif yang lebih murah tidak diterima. 

Di tempat lain ada yang sewa kereta seharga 2,5 juta ditanggung beberapa siswi, itu belum termasuk biaya rias yang ratusan ribu. Bisa jadi, di tempat lainnya ada yang lebih dari itu untuk biaya perayaan agustusan. Sekolah tak mudah mencegah dan akhirnya mempersilahkan saja, toh tampilan barisan sekolah dapat makin indah dan menarik, potensi dapat juara. Karnaval berbagai lembaga se-wilayah tidak sekedar perayaan tetapi dilombakan juga.

Tampil terbaik di karnaval adalah momen setahun sekali, kesempatan membuat kebanggaan bagi anak, menurut sebagian orang tua di atas. Sebetulnya itu untuk kebanggaan para orang tua itu sendiri juga. Namun untuk yang biasa bersikap sederhana, sak madyo wae, atau yang realistis melihat pendapatan masyarakat, yang berkisar antara 300 ribu sampai 4 juta per bulan, menyewa pakaian dengan tarif tinggi... tak terpikirkan. Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyoroti tentang perayaan HUT RI. Penulis mengambil ilustrasi tersebut untuk potret contoh bagaimana setiap orang tua mempunyai keinginan atau harapan terhadap anak. 

Selain contoh di atas, demi kebaikan anak, ada berbagai  jalan dan kesempatan lainnya yang digunakan orang tua sesuai pandangan hidup, pendapat dan pendapatan. Ada cerita orang tua yang mendamba anaknya menjadi dokter. Berbagai upaya dilakukan untuk meng-upgrade anak  agar kelak dapat masuk kuliah kedokteran. Soal biaya pendidikan ratusan juta rupiah bagi mereka tak masalah. Ternyata si anak yang dikondisikan untuk itu tidak kuat, tak mampu, bahkan sempat alami stress. Orang tua  akhirnya menyerah, menyadari kekeliruan memaksakan kehendak yang tak sesuai dengan keadaan anak. Syukur alhamdulillah mereka terhibur ada putra lainnya yang berhasil. 

Selain orang tua di rumah, ada pula orang tua di sekolah, yakni para guru, yang lebih kurang juga menitipkan keinginan dan harapan. Para guru selalu mengharap para siswanya mudah diajar, syukur bila  berprestasi, membanggakan dan mengharumkan nama sekolah. Paling tidak, para guru mengharap siswanya pandai, nilainya di atas kriteria ketuntasan minimal. Bila ada yang kurang, kadang mereka dimarahi.  Sikap para pendidik besar pengaruhnya pada mentalitas anak. Ada pendapat, pola pengajaran yang tidak sesuai bukan saja tidak mencerdaskan, malah dapat membuat putus asa anak.

Penulis, sebagai guru, mengambil sampling di kelas perwalian. Melihat latar belakang siswa berdasar data orang tua mereka, dari status  ayah, 14 orang lulusan SD, 8 orang lulusan SMP, 9 orang lulusan SMA, 1 orang belum masuk datanya. Di antara 32 siswa, 6 di antaranya adalah yatim / piatu. Sementara 1 anak yang dikira piatu, mengaku ayah ibunya berpisah. Wali kelas dan guru yang mengajar perlu mengetahui latar belakang mereka baru kemudian melihat potensi akademik, bakat dan minat. 

Ingat pula data bahwa 65% rakyat Indonesia mengenyam pendidikan tertinggi hanya pada tingkat SMP. Sementara yang sempat kuliah di perguruan tinggi baru sekitar 7% saja. Guru harus realistis bagaimana menyikapi kurikulum dan menerapkannya secara fleksibel sesuai kondisi peserta didik. Jangan karena terlalu bersemangat, materi kuliah dijadikan materi untuk para siswa. Jangan harap mereka kelak akan kuliah seperti para guru. Tingkat kecerdasan, minat dan potensi anak tak boleh disepelekan, namun pastiilah bervariasi di sistem klasikal umumnya sekarang. Kepekaan dari pengalaman di tengah para siswa menjadi pengembangan dari teori pengajaran yang bersifat umum.

Peran guru amatlah penting dan menentukan. Kehidupan anak-anak dan pertumbuhannya banyak ditentukan pengalaman belajar di sekolah. Apalagi ada sebagian orang tua yang memang amat mengandalkan sekolah atau guru untuk kebaikan anaknya. Mereka lebih senang sebagai yang membiayai saja. Lucunya, ada teman guru yang juga berpendapat demikian, meski guyon saja.  Ia tak suka dipusingkan urusan anak saat di rumah, padahal di sekolah obyek pengabdiannyan anak-anak juga, para siswanya. Alhamdulillah anak-anaknya baik-baik.. 

                                                                                *******

Ketika si mbak dan adhiknya bercengkerama, guyon, main games, orang tua tak selalu dapat nimbrung. Cukup berusaha paham, atau sesekali saja menimpali. Saat sesama siswa ngobrol di suasana santai,  bermain, guru pun  tak dapat begitu saja mencampuri. Cukup mengawasi bahwa semua baik-baik saja, berusaha menjamin tak ada perundungan, bullying. Dunia anak-anak, remaja, orang muda yang sejak dulu dikenal  masa yang indah adalah beda dengan dunia orang dewasa. Bahkan yang sedang mereka jalani dan hadapi pasti beda dengan apa yang dialami para orang tua saat di usia atau masa yang sama, dahulu. 

Setiap masa melahirkan generasi dan dinamika kehidupan yang berbeda. Kondisi alam, sosial, budaya dan tantangan hidup berubah dari masa ke masa. Berbeda dengan dahulu, kini  sedang mengalami kemajuan IT, era keterbukaan dan kebebasan berbicara. Terdapat begitu banyak kemudahan di berbagai aktivitas pergaulan, belajar dan bekerja. Tantangan baru pun muncul. Tersedianya beragam aplikasi atau platform media sosial, hiburan dan games dapat menjadi positif atau pun negatif.  Remaja jaman dulu tidak miliki pengalaman seperti remaja sekarang.  

                                                                       *******

Orang tua atau guru  tidak bijaksana apabila menuntut anak-anak bersikap atau melakukan segala hal yang dikehendakinya. Tak jarang dijumpai pemikiran hingga perkataan orang dewasa yang menyalahkan  anak-anak kenapa tidak  dapat bersikap atau melakukan hal yang mereka inginkan. Padahal anak-anak butuh bermain dan berkembang sesuai alam dirinya. Karena faktor umur, barangkali, banyak yang lupa bagaimana dirinya dahulu saat di usia seperti anak-anak mereka,  atau waktu sekolah setara murid-muridnya. Kondisi jaman tentu berbeda, maka akan sulit terjadi generasi yang berbeda memiliki pengalaman yang sama. 

Walaupun demikian, ada banyak hal yang selalu sama. Nilai kejujuran, kepatuhan pada orang tua, kewajiban  terhadap agama,,0 tak pernah berubah untuk diperhatikan sepanjang masa. Jangan karena memanjakan anak, kemudian menoleransi anak bangun lambat, tidak shalat, tidak mengaji hingga pergaulan yang tak terbatasi. Na-udzubillah mindzaalik. 

Sebagai 'kurikulum' pengemba⁹ngan diri, penugasan atau  tantangan agar berkembang adalah perlu. Menuntut anak atau siswa agar dapat memiliki kemampuan tertentu atau menyelesaikan suatu soal adalah  suatu keharusan. Yang menjadi masalah adalah apabila 'ujian' atau soal yang diberikan tidak proporsional, melebihi daya jangkau mereka. Yang seperti ini tidak membuat berkembang namun dapat berakibat keputus-asaan. 

Jika engkau ajari burung untuk berenang, engkau ajari ikan untuk terbang, maka engkau adalah pelatih yang bodoh. Demikian ungkapan yang kita ketahui. Seorang pelatih, guru, orang tua, tak dapat begitu saja menyuruh atau pun mengajari agar anak hebat,  mempunyai kompetensi tertentu, tanpa melihat keunikan anak. Orang tua atau guru hendaknya tidak bernafsu menginginkan anak atau siswanya menjadi yang terbaik di luar garis edar atau jalur  takdirnya.  

Akhirnya, lagi-lagi kita diingatkan tentang pentingnya keikhlasan dalam bersikap, serta keteladanan dalam berihktiyar. Ibda' binnafsik. Mul.ailah dari dirimu sendiri, termasuk untuk orang tua dan guru yang berpengharapan terhadap anak atau siswa. Saat proses menulis ini, alhamdulillah ada sebuah video taushiah dari Ustadz Adi Hidayat yang menarik. Dipesankan dan dimotivasi bahwa orang tua yang merubah dirinya lebih baik, percikan keberkahannya akan sampai kepada anak keturunannya. 

"Jadi gampang bila ingin anak shalih atau shalihah itu orang tua lebih dulu perlu memperbaiki diri. Kalau orang tuanya baik, konsisten ibadah; pilih aja, mau menggunakan puasa, mau tahajud malam, mau dekat Qur'an, itu kalau kita sudah punya amalan pokok yang standar dan konsisten mengerjakannya, itu percikan keberkahannya akan sampai ke anak. Itu sudah rumus. itu sudah rumus.'

_______ 

Lamongan, Ahad 24 Agustus 2025 / 30 Safar 1447 H

 

                 



Minggu, 03 Agustus 2025

Kuliah Molor, Lama Tak Miliki Anak dan Doa - doa Diijabah


_______

Seorang tetangga, tokoh masyarakat, guru, bercerita bahwa beliau telah berdoa untuk dapat sekali lagi berkunjung ke Tanah Suci. Bagi pimpinan lembaga zakat tingkat kabupaten ini, menyebut ingin sekali lagi karena ia menyadari telah berusia 70 tahun, maka itu adalah suatu permintaan atau doa sebelum menghadap Ilahi entah kapan. Permintaan sekali lagi itu tentu pula terkait pembiayaan yang tak mudah.  Sepengetahuan penulis, Bapak kelahiran Kediri itu telah dua kali ke Makkah - Madinah. Bersama sang istri beliau telah menunaikan ibadah haji, kemudian telah pula menunaikan umrah berdua bersama orang dekat lainnya. Kini juga bersama istri dan tiga saudaranya memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan umrah. Doa beliau yang banyak beramal jariyah ini dikabulkan Allah. Saat ini ditulis beliau telah menginjakkan Tanah Suci di hari kedua. Alhamdulillah. 

Saat di Mina, di hari pertama lempar jumrah pada 10 Dzulhijjah pada musim haji 1445 H atau  tahun 2024 lalu, seorang pembimbing, ketua rombongan, ketua regu, serta jamaah lainnya merasa kehilangan seorang nenek yang lepas dari rombongan di sekitar jamarat Aqabah. Hilangnya Mbah Putri Sepuh yang fisiknya kuat tetapi pikun ini sudah terjadi beberapa kali. Namun itu adalah ketika di Madinah yang relatif lebih mudah melacaknya. Kini di Mina saat berkumpul jutaan atau seluruh jamaah haji, di puncak rangkaian ibadah haji, rasanya sulit menemukannya di tengah lautan manusia, di area yang amat luas begini. Pembina rombongan pun mengajak menengadahkan tangan, pasrah,  berserah diri, memohon pertolongan kepada Allah. Alhamdulillah, sewaktu kami tiba di tenda maktab, si Mbah telah lebih dahulu berada di tempat setelah diantar oleh petugas. Ma sya Allah. Alhamdulillah.

                       *******

Saat tertarik dengan calon istri, ketika itu, sebisanya penulis tetap berusaha beristikharah. Penulis berusaha memohon petunjuk terhadap pilihan hati. Alhamdulillah, takdir mengalir hingga kini kami telah menjalani 29 tahun lebih kehidupan pernikahan. Semoga Allah menjadikan hidup berumah tangga yang kami lakukan sebagai amal ibadah yang barakah dan penuh ampunan-Nya. Rabbanaa hablanaa min azwaajina wadzurriyyatina qurrata a'yunin waj'alnaa lilmuttaqiina imaaman. Rabbi habliy minasshaalihiin. Rabbi habli minladunka dzurriyatan thayyibatan  innaka samii'uddu'aa.

Begitu juga saat kami diuji belum dikaruniakan momongan dalam kurun 6 tahun. Penulis merasa tidak berkapasitas sabar diuji seperti orang lain yang hingga belasan tahun bahkan sepanjang  hidup tanpa anak kandung. Kami berdoa agar dikaruniai anak shalih atau shalihah. Kami berdoa sebisa kami di antaranya dengan doa di atas. Alhamdulillah  di tahun ketujuh putri pertama kami lahir. 

Tak kalah penting untuk disebut di sini adalah bahwa anak pertama kami lahir setahun setelah Bapak kami menunaikan ibadah haji. Saat di Tanah Haram waktu itu beliau sering telepon. Penulis yakin Bapak mendoakan kami sewaktu beribadah rukun Islam kelima ini. Penulis sempat melihat sebelumnya bagaimana beliau menatap kami berkaca-kaca saat ada yang menanya kenapa belum juga punya anak. Pertanyaan yang amat sensitif. Subhaanallah walhamdulillah.

                     *******

Pada waktu penulis dan istri akan menunaikan ibadah haji tahun lalu, berbagai perasaan berkecamuk di dada. Kami tidak mudah membayangkan meninggalkan rumah 40 hari lebih, di mana anak-anak masih remaja, belum dewasa betul. Itu mungkin karena kami termasuk yang tidak biasa bepergian jauh, untuk waktu yang lama. Dari ayat-ayat awal QS. Al Mulk di antaranya dapat diambil hikmah petunjuk bahwa kematian dan kehidupan itu diciptakan oleh Allah Ta'ala. Ia yang menciptakan langit tanpa retak, Ia yang mengatur takdir-Nya. Kami pasrah, tak berdaya, berserah bermohon petunjuk, pertolongan, perlindungan, keselamatan dan tentu kebahagiaan.

Alhamdulillah, kami pun akhirnya selesai menunaikan setelah mendaftar 12 tahun lalu. Kami merasa doa-doa kami khususnya terhadap keluarga yang kami tinggal diijabah. Tentu pula semoga Allah menerima ibadah kami dan selslu menetapkan hidayah dan kemabruran atas ibadah kami. Allaahummaj'alnaa hajjan mabruuran, wasya'yan masykuuran, waddzanban maghfuuran, watijaaratan lantabuura. Allaahumma yassirna ziyarata baytikal haraam. Allaahumma yassirna ziyaratal makkah walmadinah wal 'arafah waablighna lissyayyidina Muhammadin minassalaam. Ya Allah ijinkanlah di waktu berikutnya kami dan keluarga pergi bareng ke Tanah Suci untuk menunaikan haji atau umrah. Aamiin.

                       ******* 

Saat kuliah, penulis memutuskan mengambil beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas). Karena merasa butuh untuk tambahan sangu atau biaya kuliah selain dari orang tua, penulis mencoba mendaftar ke proses seleksi. Yang mengikuti ini setelah lulus wajib (nyaur) bekerja pada instansi pemerintah selama minimal waktu tertentu. Bila tak salah, wajib bersedia menjadi pegawai negeri sipil (PNS) selama waktu tertentu dan sedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia.  

Alhamdulillah, mungkin karena penulis temannya para mahasiswa aktivis, artinya penulis ikut aktif di beberapa kegiatan kemahasiswaan meski tidak di posisi puncak, akhirnya termasuk yang lolos seleksi. Beasiswa TID cukup membantu, meski nominal yang diterima tidak besar bila dibanding beasiswa yang pernah penulis terima sebelumnya, dari perusahaan minyak MOI, Mobil Oil Indonesia. Perbandingannya total per tahun lebih kurang 1 : 3. Bedanya lagi, yang dari TID terikat,  ada klausul nyaur sedia jadi PNS, yang Mobil Oil tanpa syarat seperti itu.

Nah, untuk syarat bersedia ditempatkan di luar Jawa, atau seluruh wilayah Indonesia, ibu penulis sempat berucap semoga kelak tidak jauh dari rumah. Entahlah, oleh berbagai sebab, meski pernah menerima dua jenis beasiswa,  masa kuliah penulis molor ... he he he. Penulis lulus di semester 10. Melihat pengalaman ini, istri heran, wong mahasiswa TID koq telat lulusnya, tanpa skripsi lagi. Saat itu penulisan skripsi memang belum wajib, masih jalur pilihan. Jadi, penulis hanya  menyelesaikan peekuliahan 148 SKS. Penulis pernah ambil mata kuliah prasyarat skripsi, tapi mundur, tidak lanjut mengikuti  perkuliahan, apalagi mengerjakan tugas dan ujian. Jadi telatnya atau molornya kelulusan penulis ini, yang tentu tidak diinginkan sebelumnya, ternyata kemudian  penulis anggap  amat terkait dengan ucapan ibu di atas.  

Para lulusan eks mahasiswa penerima TID yang lulus awal 1994 dan sebelumnya, data yang oenulis dwngar  100% atau seluruhnya selalu ditempatkan di luar Jawa, atau di berbagai wilayah Indonesia,  kecuali yang memenuhi kualifikasi untuk diangkat menjadi dosen. Sedangkan untuk yang lulus pada petengahan 1994, penulis di semester kesepuluh,, ternyata mengalami kondisi berbeda. 

Setelah kuliah, semula ijazah kami para eks penerima TID ditahan oleh kampus, tidak diberikan. Namun beberapa bulan berikutnya kami disuruh mengambil karena formasi PNS untuk eks mahasiswa penerima TID dinyatakan tidak ada. Qadarullah, satu tahun setelahnya, kami dipanggil lagi ke kampus untuk menjalani tes screening,  litsus atau penelitian khusus kewarganegaraan, untuk calon PNS pada masa orde baru, guna meneliti keterkaitan keluarga dengan ormas terlarang. Jadi ada kebijakan baru untuk tetap mengangkat sebagai PNS bagi eks mahasiswa TID. Setelah tahapan litsus itu dilalui, terbitlah surat keputusan (SK) penempatan. 

Alhamdulillah seluruh CPNS dari mahasiswa eks penerima TID, yang berjumlah 71 orang se kampus waktu itu, semuanya ditempatkan di sekolah dekat domisili masing-masing. Penulis disuruh sujud syukur oleh yang menyerahkan SK. Penulis lalu teringat ucapan ibu penulis bahwa semoga tidak jauh-jauh. Ucapan ibu ternyata menjadi doa mustajabah. Ibu penulis yang rajin tahajud pasti mendoakan kebaikan hidup sepanjang hayat anak-anaknya. 

SK yang penulis terima yang  menyebutkan kewajiban kerja pada pemerintah selama 3 tahun 5 bulan itu, menunjjukkan  tempat tugas yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari kampung halaman. Di tempat  penulis bertemu jodoh, yang kini menjadi ibu dari 2 anak penulis. Andaikan penulis lebih rajin kuliah, he he he, tidak pernah gagal hingga 18 SKS, lulus di semester 8, cerita hidup pastilah beda. Wallaahu a'lam.

                      *******

Hidup adalah untuk dilihat siapa yang terbaik amalnya, pesan awal QS. Al Mulk. Yang dianggap sulit atau derita pasti tak sebanding yang dialami Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. Nikmat yang kita alami pun tak ada apa-apanya dengan kemuliaan manusia mulia dan agung tersebut. Kita merujuk pada teladan beliau, sabda beliau dan wahyu yang beliau terima sebagai tuntunan kita dalam mengarungi kehidupan hingga kembali kepada Allah. 

Semoga kita kelak berkumpul dan berjumpa Rasulullah, para nabi, para orang shalih, keluarga, sahabat dan orang-orang beriman di surga Allah yang seluas langit dan bumi. Aamiin.

                         *******

Addition;

Doa adalah senjata kaum mukminin. 

Disebutkan dalam Al-Mustadrak Al-Hakim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُدْعُو اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالاِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doa kalian terkabul. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius.” [HR. Al-Hakim, 1:493]
*******

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“ Dan Tuhamnu berfirman: “ berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” [Gafir/40:60].

*******

Referensi : https://almanhaj.or.id/92861-doa-senjata-orang-mukmin.html

_________ 
Lamongan, Ahad 3 Agustus 2025/
                       9 Safar 1447 H.


Minggu, 20 Juli 2025

Ojo Nggumunan Ojo Kagetan, Ada Ukuran Kehormatan

Orang kaya makan kenyang, orang miskin pun dapat makan kenyang. Yang pintar dapat pekerjaan, yang disebut bodoh juga bekerja, Yang cantik dan tampan mendapatkan jodoh, yang biasa saja bahkan yang difabel juga menikah. Yang pejabat tertawa, yang rakyat pun senyum bahagia, Di negara maju disebut usia harapan hidupnya tinggi, yang tinggal di lereng-lereng gunung banyak yang sepuh tetap tahes. Ada orang-orang kaya yang menjadi donatur amal, menyantuni yang susah, tetapi yang umumnya hidup suka berbagi yang dipunya, ringan tangan membantu, suka saling berkunjung,  juga suka menolong dengan ikhlas adalah orang-orang biasa, masyarakat kebanyakan.

Demikian juga, yang suka mengeluh tak selalu yang kurang. Yang maling, korupsi, bukan karena miskin. Yang menjomblo sepanjang hayat bukan karena tak mampu secara ekonomi. Yang suka bertengkar bukan mereka yang awam. Yang berbohong dan tak jujur bukan yang tak berpendidikan. Yang gemar berdandan justru yang sudah cantik atau tampan. Yang menyesatkan malah sebetulnya orang alim. Yang tak dapat tidur nyenyak mereka yang punya kasur empuk dan kamar tidur bagus. Sementara ada yang nyenyak angkler di atas becak, di emperan toko, di bawah pohon di pematang sawah, di serambi masjid, atau di rumah-rumah sederhana. 

Penyakit yang berat dialami berbagai strata masyarakat. Perbuatan dosa dan maksiat tak hanya di kota, di desa juga. Kesombongan tak hanya oleh yang gagah dan berpangkat, orang awam pun ada yang pongah menolak kebenaran. Orang jahat kini tak lagi digambarkan yang brewok, bertampang seram, hitam, besar, bertato atau berkaos belang-belang. Yang bermuka culun, suka tampil sederhana, bicara merendah, saat berkuasa merangkul menggurita, mencengkeram menyandera, daya rusaknya tak terkirakan, tak ada duanya dalam sejarah bangsa.

Kehidupan indah yang diimpikan anak-anak dan remaja akan ditemui berbeda. Kota tak seindah yang dibayangkan anak-anak kecil di desa. Desa tak selalu damai seperti bayangan oleh yang bosan di keramaian. Dunia hiburan tak dapat menentramkan. Kekayaan yang melimpah tak membuat wajah tenang dan cerah ceria. Pemilik ilmu kedokteran tak dapat menjamin kesehatan  diri dan keluarga. Para guru dan ulama pun tak mudah dan harus tetap berhati-hati mendidik anak keturunannya. Status kepemilikan tak selalu melekat pada seseorang bahkan sebelum ia sekarat dan wafat. 

Tak selalu yang kaya itu sombong. Banyak yang kaya yang amat rendah hati. Tak selalu yang lberpangkat itu gila hormat, ada yang menduduki posisi penting namun egaliter dalam pergaulan. ia meyakini semua orang memiliki peran dan fungsi yang sama pentingnya dalam kehidupan. Kemuliaan seseorang tak ditentukan kecuali oleh ketaqwaannya kepada Allah subhaanahu wata'ala. 'inna akramakum 'indaLlaahi atqaakum.'Sebagai hamba Allah, ukuran ketaqwaan yang dapat kita lihat secara lahiriyah adalah dasar hormat kita pada sesama. Wallaahu a'lam.

_______
Lamongan, 20 Juli 2025 /  25 Muharram 1447H

Rabu, 09 Juli 2025

Yang Ingin Menggapai Cita-cita Tertinggi



Bila ada  orang yang merasa latar belakang kehidupannya tak pernah berdosa, berbuat keliru, maka ia mungkin lupa bahwa sebagian sahabat dan pembela Nabi Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam adalah orang-orang yang berlatar belakang kelam. Ada di antara mereka justru sebelumnya adalah musuh, turut memerangi Rasulullah dan para pengikut beliau di masa awal. Betapa hidayah Allah dapat turun pada orang-orang yang dikehendaki-Nya, yang mungkin orang tak menduga. 

Setelah hijrah, mereka adalah orang-orang mulia yang 'prestasi'-nya dapat melebihi yang tak pernah menjalani kejahiliyahan seperti mereka. Tulisan pendek ini tentu tak hendak membaikkan orang yang memiliki masa lalu jelek, namun untuk mengingat bahwa keadaan akhir itu lebih penting diperhatikan dari pada masa lalu. Entah itu masa lalu yang buruk atau yang membanggakan. Wal aakhiratu khayrun laka minal uwlaa.

Masa lalu yang bersih tentu modal baik untuk melangkah ke depan. Ibarat orang yang tak punya penyakit bawaan, tak pernah cedera, tak pernah sakit hingga opname, mereka barangkali seharusnya berpotensi memiliki stamina yang baik untuk melanjutkan perjalanan ke depan. Namun semua harus selalu berendah hati memohon petunjuk Allah agar hidayah-Nya senantiasa tersemat di hati hingga akhir hayat.  

Ada dua hal yang perlu dilihat ke depan untuk semua kita yang masih punya jatah umur, yang berlanjut kehidupannya. Yang pertama apakah kelak akan sampai pada alamat yang dituju, husnul khatimah atau akhir yang baik. Yang kedua seberapa banyak prestasi kebajikan yang dibawa sebagai bekal meninggalkan kehidupan di dunia untuk melanjutkan ke kehidupan abadi di akhirat. Semoga rapor amal lebih banyak kebaikannya dan bukan sebaliknya, na'udzubillah mindzaalik.

Bila ada yang salah alamat, tidak sampai pada tujuan mulia hidup di dunia, maka sungguh merugi dan menuai sesal abadi karena menerima ganjaran siksa neraka. Sementara yang kelak sampai pada alamat yang seharusnya dituju, maka sungguh beruntung. Bahkan ini terlepas apa pun masa lalunya. Latar belakang masa lalu yang baik tidak berguna bila akhirnya buruk. Sementara masa lalu yang kelam bila diakhiri dengan taubat dalam kebaikan, maka ini adalah keberuntungan.

Surga itu seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang yang taqwa. Berbagai kebajikan dapat antarkan kita kesana. Kita tidak dituntut kecuali sesuai keadaan atau kemampuan kita. Namun yang pasti kita diwajibkan bersungguh-sungguh dalam belajar lalu mengamalkan semua kebaikan yang dituntunkan oleh junjungan kita Nabiyyullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. Rujukan keyakinan dan kebaikan hanya kepada Sang Nabi Akhirul Jaman. 

Kita harus berhati-hati agar tidak terperosok dalam kehinaan akibat perbuatan dosa. Kita semestinya bersemangat mengumpulkan bekal untuk dibawa dalam penimbangan amal pada yaumul hisab. Kita ingin terjauh dari siksa neraka yang pedih. Kita ingin masuk surga yang penuh kenyamanan atau kenikmatan. Kita ingin berkumpul besama Rasulullah Muhammad shalaLlaahu 'alayhi wasallam. Kita tentu ingin bertemu Allah subhaanahu wata'ala.

________

Rabu, 9 Juli 2025 / 14 Muharram 1447 H

Rabu, 02 Juli 2025

Memahami IRo-Society: Merujuk Catatan Seorang Wartawan Senior

 

Memahami IRo-Society: Merujuk Catatan Seorang Wartawan Senior

Bambang S. Mantup

Santri IRo-Society dari Lamongan

_____

Wartawan senior Jawa Pos Djoko Pitono mencatat ada hampir 6 ribu atau sekitar 5.600 profesor di Indonesia dengan keahlian masing-masing. Mereka juga memiliki karakter yang macam-macam. Penulis dan editor banyak buku ini melihat Prof Imam Robandi begitu antusias saat berbicara di depan para mahasiswa serta para guru. Menurutnya, hal ini rupanya tertular budaya Jepang bagaimana (hal itu membuat, red.) seorang guru dihormati.

Digarisbawahi pula betapa Prof. Imam bersabar membimbing para guru itu selama bertahun-tahun. Sebagai wartawan yang tentu selalu mengikuti perkembangan dan gerak budaya, Djoko Pitono pernah mengamati hal istimewa seperti ini dilakukan oleh almarhum Prof. Andi Hakim Nasution dari IPB (Institut Pertanian Bogor) serta almarhum Dr. Sujoko dr ITB (Institut Teknologi Bandung). Pada paparan pengantar sebagai moderator bedah buku pada akhir tahun lalu itu, Djoko Pitono seakan ingin mengatakan sekarang hanya Prof. Imam yang melakukannya.

Pekan lalu, di tengah kesibukannya aktif dalam seminar-seminar bersama para pakar, wali kota dan wakil gubernur dalam rangkaian HUT ITS, profesor dengan multi bakat seni ini sejak beberapa waktu sebelummya juga mendampingi latihan para professor untuk pentas wayang orang. Prof. imam Robandi adalah sutradara atau dalangnya. Ketua Dewan Prrofesor ITS yang pernah berkeliling mendalang di di Jepang ini juga merekomendasikan seminar nasional untuk dilaksanakan para Irowan Irowati.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat nalam itu bertitel National Seminar: Understanding IRo-Society. Seminar ini berlevel nasional karena para invited speakers dan partisipannya memang berasal dari berbagai daerah di tanah air, mulai Aceh sampai Papua. Kegiatan ini pun seperti biasa di-record dan di-broadcast secara streaming oleh para IRo-YouTubers sehingga dapat disaksikan secara meluas dan terdokumentasikan.

Penulis yang berkesempatan menjadi salah satu dari 9 invited speakers melihat kreativitas penulis buku Artificial Intelligence dan banyak buku lainnya ini. Ibarat dalang yang tak pernah kehabisan lakon, ada saja skenario Prof. Imam dalam memberdayakan dan mencerahkan, empowering and enlghtening, para santrinya. Hal seperti ini membuat semua yang terlibat tertantang untuk dapat melaksanakan dengan baik. Tugas ini harus dilaksanakan dengan ikhlas bila ingin belajar.

Seminar ini merupakan KSJM (Kajian Spesial Jumat Malam) seri ke-140. Kajian yang dimulai sejak masa pandemik setiap pekan ini benar-benar tanpa putus dan merupakan webinar terpanjang,. Demikian hal itu pernah disampaikan seorang dosen dan peneliti dari Yogjakarta Ali R. Audah. Ini adalah sebuah catatan sejarah. Semua yang aktif dalam IRo Society bersyukur berada dalaam komunitas yang istimewa ini. Tulisan  ini adalah modifikasi dari outline presentasi ‘makalah’ yang disampaikan penulsi dalam seminar tersebut.

Prof. Imam Robandi Founder dan Tokoh Sentral IRo Society

Sebuah kelompok atau komunitas, organisasi, lembaga sampai sebuah negara sudah jamak atau lazim memiliki tokoh sentralnya. Dialah yang mempengaruhi, mewarnai, mengarahkan sampai mengendalkan dinamika yang ada dalamnya. Baik-buruknya dan kondisi apa saja kuncinya terletak pada seorang tokoh sentral. Karakter sang tokoh jelas berpengaruh terhadap suasana dan dinamika kelompok. Prof. Imam Robandi adalah intelektual, pemikir, yang sekaligus memiliki jiwa seni yang cukup tinggi dan bakat beragam telah membangun komunitas yang dinamakan IRo Society.

 KomunitasIRo Society dibentuk dari tindak lanjut kegiatan workshop, seminar, symposium yang dilakukan oleh lulusan Tottori University Japan ini. Dari group-group di whatsap yang jumlahnya puluhan kemudian sering terhubung dalam berbagai kegiatan atau proyek. Para IRowan dan IRowati santri atau murid Prof. Imam ini telah menghasilkan banyak buku tunggal maupun kolaborasi. Tidak hanya karya tulis, sebagaian mereka juga telah menjadi youtuber dan streamer yang bersemangat dan terus menghasilkan konten-konten kreatif dan positif.

Komunitas ini membuat para anggotanya menjadi pribadi-pribadi pembelajar dan professional di tempat masing-masing. Umumnya mereka adalah para guru dari tingkat PAUD sampai SMA serta para doctor berbagai perguruan tinggi. Ada pula dokter, apoteker dan praktisi di bidang lain. Yang sama dari yang beragam itu adalah mereka semua merasa menjadi pembelajar untuk dapat hidup bermakna menebarkan kebermanfaatan. Slogan dari IRo-Society adalah empowering and enlightening atau memberdayakan dan mencerahkan ini memotivasi hingga bagaimana menghasilkan karya-karya jariyah. Prof. Imam memotivasi kita agar kuburan kita tak hany di pemakaman tetapi juga di perpustakaan. Artinya kita harus menghasilkan legacy atau warisan jangka panjang.

Nama IRo Sociiety Bukan IRo Community

Penulis saat awal masuk pernah berpikir tentang nama IRo Society, mengapa tidak IRo Community. Menge-check di Wikipedia keduanya mempunyai arti sama yakni masyarakat. Baik IRo-Society maupun IRo-Commnunity dapat diartikan masyarakat atau kumpulan orang di bawah  bimbingan Prof. IRo atau Prof. Imam Robandi. Saya menebak pemilihan kata ‘society’ dapat memberikan penekanan atau pengingat tentang nilai masyarakat madani, masyarakat yang berkeadaban atau berperadaban. Konsep masyarakat madani yang pernah digaungkan adalah mengambil dari istilah ‘civil society’.

Nilai-nilai keadaban itu pula yang terbukti ada dan menjadi ciri khas komunitas ini. Boleh disebut di sini dijunjung tinggi kejujuran dan keramahan. Nilai kejujuran ditunjukkan bahwa warga IRo diharapkan berkarya original, dilarang menyukai copy paste. Kejujuran juga membawa semangat belajar dan memperbaiki diri, sedia diingatkan bahkan dikoreksi. Nllai keramahan ditunjukkan dengan saling menyapa, saling memberikan simpati, empati dan apresiasi bahkan keinginan saling bertemu atau mengunjungi. Semua pembelajar adalah berproses. Beruntungnya, di IRo disediakan lebih dari satu fakultas.

Sebagian warga IRo yang penulis kenal meski secara virtual tampak ada yang bersemangat dalam kepenulisan. Jenis karya mereka pun dapat beragam baik bentuk artikel, puisi dan lainnya, begitu pula selingkung atau gaya bertuturnya. Sementara sebagain ada yang memiliki passion dalam berkarya video dengan menghasilkan konten-konten yang kreatif, positif dan manfaat. Ada pula yang tersemangati dari isi tulisan dan video untuk mengembangkan diri dalam banyak hal, dari bertanam, berkebun, membuat kuliner, menyanyii sampai bagaimana membaca Al Quran atau qiraah.

Seorang IRowati yang berasal dari Lamongan yang bernama dr.Izzuki Muhasonah, yang kini tinggal di Probolinggo, adalah seorang dokter yang dalam seminggu terakhir sibuk membagi waktunya untuk mengatur persiapan dan banyak hal terkait seminar, sebagai chair woman. Ini adalah contoh aktivitas warga IRo yang berbagi, memproses diri dan dari pengalaman di komunitas ini makin mantap menjadi yang terbaik di tempat masing-masing.

King Kobra , Elang dan Sukses Bersama

Hubungan warga IRo dari Aceh sampai Papua tak sekedar interaksi antar murid atau antar santri sekedarnya. Di antara mereka ada ikatan persaudaraan sesama pembelajar untuk mencapai tujuan yang sama sesuai latar belakang masing-masing. Bila ini ditanyakan kepada semua IRowan dan IRowati maka jawabannya akan serupa. 

Semangat menghargai pun menjadi hal yang biasa karena memang biasa dipraktekkan sendiri oleh sang guru. Setiap IRotizens, demikian kadang-kadang warga IRo menyebut dirinya, merasa mendapatkan perhatian. Prof. Imam sendiri dengan berendah hati menyatakan bahwa di IRo Society tidak terlalu perlu menggerakkan karena pada dasarnya yang di sini sudah terseleksi. Mereka yang sejak awal tak siap belajar tentu sudah left, meninggalkan group. Menurutnya, rumus King Kobra pun tidak lagi berlaku di sini. King Kobra bertelur 30, yang menetas 22 dan yang kelak menjjadi King Kobra hanya dua. Sementara di sini lahir king kobra yang lebih banyak.

Kesediaan untuk bersama di sini adalah karena karena terdapat kesamaan yang diperjuangkan. Itulah pengikat hati dan pikiran yang terbukti dapat bertahan hingga sekarang dan in sya Allah akan berlangsung lama ke depan. Ada semangat untuk mencapai keberhasilan bersama. Ungkapan yang sering disampaikan adalah bahwa sukses sendiri itu lebih mudah dari pada sukses bersama, tetapi sukses bersama in sya Allah akan lebih membahagiakan. Suka rela, setiap orang berhak sukses sendiri atau pun sukses bersama. Keduanya pun dapat dipilih tanpa mengesampingkan yang lain.

Ada catatan, Prof. Imam kadang berprinsip 'Eagle flies alone'atau elang yang terbang bebas menentukan tujuan secara mandiri. Ini adalah kebutuhan penyeimbang dari  keterikatan rutinitas guru besar bidang elektro ini dalam berbagai tugas. Kemampuan itu tampakanya yang membuat dapat menciptakan lebih banyak manfaat. Buktinya, batapa banyak tokoh dari berbagai perguruan tinggi  dan kalangan, serta tokoh-tokoh inspiratif lainnya, baik dari dalam dan luar negeri, telah pernah dibawa oleh Prof. Imam di hadapan para santri IRo Society.

 Untuk belajar menghasilkan kebermanfaatan, para santri IRo Society justru lebih dahulu digerojog manfaat dari sosok, yang oleh seorang tokoh menyebutnya sebagai, seorang humanis. Keistimewaan yang disampaikan Bapak Djoko Pitono di atas menjadi corak kurikulum dan pembiasaan di komunitas IRo Society.

_________

Lamongan, Ahad 23 Oktober 2022 / 27 Rabiul awal 1444 H

Minggu, 29 Juni 2025

Catatan Liburan Sekolah: Sehat Imane Sehat Awake Sehat Duite



_______

Besarnya persoalan pendidikan boleh dikata segedhe gajah, maka penulis akan menyampaikan dari sisi ibarat orang-orang buta yang mengenal gajah. Ada yang meraba kakinya saja, ada yang hanya memegang kuping, ada yang cukup disentuhkan ekor, serta ada  yang mengelus badannya. Berdasarkan pengalaman empiris masing-masing, akan memunculkan kesan beragam. Apa yang disampaikan para orang buta akan dikatakan benar semua, dengan prosentasi kebenaran yang tentu tidak menyeluruh. Tulisan ini mungkin hanya mampu menyentuh secuil kecil atau setipis ari dari masalah pendidikan yang kompleks. Ini 'disclaimer' sebelum penulis membuat catatan tentang pendidikan di masa liburan sekolah ini. 

Judul di atas penulis ambil dari yang tertulis di foto kaos tokoh Gus Nur (Sugi Nur Raharja). Ini suka-suka saja. Sekedar meminjam frase,  tujuan pendidikan adalah untuk membuat keimanan yang mantap, kualitas kesehatan badan yang prima serta untuk kesejahteraan. Bila tak sependapat, itu boleh saja, tidak ada salahnya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia yang adil makmur. Ini slogan-slogan yang akrab di telinga kita atau mungkin kerap kita ucapkan. 

Terkait dengan tujuan meningkatkan sumber daya manusia (SDM), ada pemikiran cerdas yang perlu diperhatikan. Pada wawancara di sebuah podcast, Anies Baswedan tidak suka dengan istilah sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, jika manusia adalah sumber daya, maka manusia akan difungsikan sebagai pen-suply kebutuhan pasar. Pendidikan semestinya membuat kualitas hidup yang meningkat, bukan demi pekerjaan. Ungkapan ini membikin sang host pewawancara manggut paham dan kagum. Kita pun boleh merenungkan setelah ini. Memang ada pandangan kritis bahwa sistem pendidikan kini cenderung tidak menghasilkan pemikir tetapi pekerja. 

Sementara tentang pengalaman pendidikan, ternyata kurang dari 7% warga negeri Ibu Pertiwi yang telah. mengenyam bangku kuliah. Demikian data yang disiarkan media Liputan 6 pada 8 Januari 2024. Bila ada versi lain, angkanya pun masih kecil. Itu artinya pembaca blog ini, yang umumnya pernah mengenyam bangku kuliah,  adalah kelompok elit di masyarakat. Para guru di jenjang pendidikan dasar dan menengah yang minimal lulusan S1 juga kaum elit. Bila kita sedang mengajar, maka perlu ingat bahwa sebagian kecil saja para siswa yang akan terus belajar sampai bangku kuliah. Mungkin karena itu, wisuda di jenjang SMP, SMA dianggap perlu atau dinantikan oleh sebagian siswa, tanda mengakhiri masa sekolah mereka. 

******

Pada proses penerimaan murid baru (SPMB) offline di SMP, seorang emak muda mengaku sebagai alumni dan mengenal penulis. Ia mengatakan setelah SMP ia tidak melanjutkan ke SMA tapi kemudian menikah. Ia lalu hidup di daerah lain dan berdagang. Penulis tanya dagang apa? Ia bilang ia jualan berpindah-pindah, berdagang bila ada pertunjukan ludruk. Penulis lalu coba paham cara bicaranya dengan sesama ibu pendaftar. Hei, Crut. Iki ditulis ngene tah?  Ia panggil temannya crat crut yang barangkali tak beda seperti saat jualan di tontonan. Mereka di antaranya orang tua wali murid anak-anak yang akan diajar di sekolah. Apakah anak-anak mereka juga cukup sekolah hingga SMP, SMA? Belum tentu juga.

Pak, titip-titip anak kula, nggih. Mbenjing mlebet ten SMKne Njenengan. Seorang tukang batu omong-omong suatu saat. Dia tahu, selain di SMP penulis juga mengajar di SMK. Penulis pun tanya, yogane jaler nopo estri? Jaler, katanya. Niki sing nomor kalih. Sing mbajeng Mbak e kuliyah ten Trunojoyo. Nggiih kula bandani kalih dengkul niki. Maksudnya dia membiayai dari upah sebagai tukang. Wah, syukur alhamdulillah, Pak. Mugi-mugi adhik e saget nututi Mbak e. Penulis menanggapi yang semestinya. Betapa terlihat pada diri Pak Tukang itu  ada rasa syukur punya anak kuliah, sekolah di perguruan tinggi. Ada harapan anak lainnya juga baik, Semua kita ingin memiliki keturunan yang shalih shalihah yang manfaat untuk sesama. Khayrunnaasi 'anfa'ahum linnaasi.

Rabbanaa hablana min azwaajina wadzurriyyatina qurrata a'yun waj'alna lilmuttaqiina imaama. Rabbi habli minasshaalihiin. Rabbi habliminladunka dzurriyatan thayyibatan innaka samii'uddu'aa'. Aamiin.

                                                                   *******

Akhir pekan lalu dilaksanakan pembagian rapor hasil  belajar semester genap.  Pekan ini dan dua pekan ke depan adalah liburan sekolah.  Aktivitas pembelajaran istirahat. Para siswa tidak punya jadwal ke sekolah, baik untuk kegiatan intra maupun ekstra kurikuler, kecuali barangkali sedang ada hal khusus. Anak-anak kembali ke habitat asli di rumah. Memang pada hakikatnya tempat belajar yang mendasar, al madrasatul uula, adalah di rumah. Orang tua adalah pendidik utama. Nah, liburan sekolah menjadi saat pengembalian pengasuhan anak-anak kepada orang tua, boleh dikata demikian. Kini orang tua sadar lagi, bila ada yang lupa, tentang kepentingan pendidikan anak.

Di rapat-rapat akhir semester genap di sekolah-sekolah, biasa disebut rapat kenaikan kelas, tentu selalu diwarnai bahasan tentang siswa, khususnya tentang siswa siswi yang dianggap bermasalah. Persoalan siswa umumnya bukan kompetensi akademik atau kemampuan menyerap materi pelajaran. Kurikulum yang mengusung konsep pembelajaran diferensiasi tidak menuntut semua siswa mencapai target yang sama. Masing-masing ditoleransi untuk dapat menyelesaikan tujuan pembelajaran yang ditentukan sesuai dengan kecepatan dan kemampuan yang dimiliki. Bahkan program inklusi memungkinkan sekolah umum untuk menerima anak-anak berkebutuhan  khusus. Bahasan yang memantik perhatian lebih pada tentang karakter atau perilaku siswa.

Tidak hanya tentang kompetensi akademik, sebagai pendidik guru diharapkan dapat menghadapi masing-masing anak secara berbeda sesuai keunikan latar belakangnya. Bukan semangat diskriminasi tetapi untuk bersikap profesional dan proporsional. Ada jenis anak-anak yang  rajin berangkat ke sekolah tapi ketika  disuruh mengikuti pelajaran, mereka tampak  enggan, malas mikir. Mereka ke sekolah tak beda seperti untuk dolan saja. Minat belajarnya rendah. Itu karena di rumah mereka sudah susah, maka di sekolah adalah untuk rekreasi. Ini agar tidak mudah menyalahkan anak. Guru tidak bijak bila menuntut anak sesuai keadaan dirinya yang sudah dewasa, mapan. Sepatutnya kita realistis, rasional dan penuh kasih sayang pada para belia itu. 

Betapa beragam kondisi para murid yang kategori bermasalah.  Ada yang berangkat tapi tidak sampai sekolah, belok ke warung kopi atau warung wifi, atau cari tempat tidur.  Si anak masih belum dapat menerima perpisahan kedua orang tuanya, butuh pendampingan. Ada juga siswa yang dari orang tua lengkap, saat di rumah ia terlalu dimanja, maka di sekolah cenderung keras kepala. Ada sebagian anak yang sebetulnya ingin belajar dengan baik, namun keadaan yang melingkupinya kurang mendukung. Kondisi ekonomi kurang mampu, orang tua tidak di rumah, bekerja di tempat jauh. Selalu ada pula yang yatim, piatu atau yatim.piatu yang membutuhkan kasih sayang dan penguatan.  Ada juga yang kondisi daya pikir si anak memang terbatas atau IQ rendah. 

Konsep diferensiasi di antaranya dimaknai realistis terhadap kondisi anak. Tidak tepat menyamaratakan semua anak, gebyah uyah.  Jangan samakan tiap siswa seperti anaknya para guru, misalnya. Kita para guru hendaknya jujur terhadap diri sendiri, bahwa kita saat berusia seperti anak kita atau siswa kita, kondisinya juga tidak beda. Tak bijak menuntut anak-anak mudah manut, hasil atau nilai siswa di atas 7 semua, misalnya. Bukankah tiap anak memiliki bakat, minat dan takdir sendiri-sendiri? 

                                                               *******

Orang tua, guru, pemimpin umat dan masyarakat tak henti memikirkan dan mengharap kebaikan generasi penerus. Sebagai pewaris Nabi, ulama dan guru serta para cendekiawan, tak tega apabila keadaan kehidupan masyarakat, apalagi generasi mudanya,  memburuk. Rusaknya jalan perlu dikeluhkan,  menuanya gedung, bangunan, tempat umum yang tidak layak perlu  disampaikan dan diupayakan untuk dibangun. Namun tak kalah penting adalah keadaan generasi muda penerus bangsa, yang vital atau utama.

Keprihatinan adalah ciri kecendekiawanan.  Orang beriman harus selalu memendam keprihatianan. Itu adalah wajar dan wajib dimiliki unttuk semangat amar ma'ruf nahi mungkar. Anyway, keprihatinan tak boleh membuat hina, sedih apalagi putus asa. Kita para guru harus senantiasa bersemangat, bergembira dan visioner ke depan. Walaatahinuu walaatahzanuu  wa antumul a'lawna inkuntum mu'miniin. Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) merasa sedih, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin. (QS. Ali Imran: 139) 

                                                                                *******

Menjenguk seorang teman guru yang sedang sakit, anak dan istrinya cerita bila sang abah suka membawa pulang masalah sekolah. Bukan persoalan administrasi atau pergaulan dengan kolega dan pimpinan, tetapi masalah-masalah anak didiknya. Bukan tentang sulitnya mereka mencerna pelajaran. Sang ayah sering memikirkan bagaimana kehidupan siswanya yang bermasalah karena kekurangan ekonomi orang tuanya, atau karena orang tuanya bercerai. Entah karena merasa dahulu berasal dari keluarga kurang mampu, maka sang ayah amat peka terhadap kondisi anak-anak yang kekurangan. Ia sering  berusaha dapat membantu sesuai kemampuan.

Mengenai bagaimana menghadapai belajar para siswanya, sang ayah merasa sreg, tenang dan senang membaca kutipan ucapan ulama kharismatik KH. Maimoen Zubair. Tokoh yang sering dipanggil Mbah Moen itu mengatakan bahwa guru tak perlu merasa yang memintarkan siswa."Jadi guru tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik.Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus-menerus agar muridnya mendapat hidayah. " (KH. Maimoen Zubair)

Penulis terkesan dengan teman guru tersebut karena sikap dan pendapatnya sebagai guru terbilang tidak banyak yang mempedomaninya. Selain sering  berusaha menolong siswa yang kekurangan,  ia juga  membiasakan diri mendoakan para siswanya. Ini langka, bukan? Karena itu, penulis mendokumentasikan dalam tulisan 1700 kata ini.

Penulis sempat berucap bahwa kini hubungan guru - siswa kadang terkesan   transaksional, seperti penjual dan pembeli ilmu. Seringnya terdengar keluhan guru terhadap murid, obyek profesinya. Bila dilihat secara profesional, murid adalah klien, customer atau pelanggan, user atau pengguna layanan kita, para guru. Dari sisi nilai keagamaan, murid adalah  amanah titipan dari wali murid serta obyek dakwah para guru sebagai pewaris Nabi. Guru yang profesional dituntut membetikan service atau layanan yang baik. 

*******

Sayangnya, fungsi pendidikan yang mulia untuk meningkatkan kwalitas diri tak jarang dipersempit oleh orang tua siswa. Ada yang pilih-pilih sekolah favorit untuk anaknya dengan cara yang tidak pas. Ada orang tua yang memilihkan sekolah untuk anak demi gengsi saja. Ada pula yang mengajak dan mengajari anak untuk mempraktikkan ketidakjujuran dalam tes masuk. Na’udzubillah.                                          

Begitupun dalam keseharian belajar di sekolah,  kadang kala kecerdasan dan prestasi tidak dikaitkan dengan karakter mulia khususnya kejujuran. Para guru, termasuk penulis pribadi,  juga kadang menjadi tidak peka terhadap hal ini. Para guru tidak mudah bersikap tegas terhadap praktik kecurangan siswa dalam ulangan atau ujian karena menyadari kemampuan yang beragam. Kurikulum dan teknis pembelajaran yang tak selalu sesuai untuk berbagai level kompetensi, minat, motivasi dan latar belakang siswa juga membuat guru tak dapat bersikap kaku dalam proses pembelajaran dan evaluasi.

Ironis krisis kejujuran dan integritas, juga terjadi pada lembaga pendidikan Universitas Indohoy (UI) yang mencoba memberikan gelar secara murah kepada seorang pemimpin partai besar dan menuai berbagai kritik. Tak kalah memprihatinkan, Universitas Genk Mulyono (UGM) direndahkan dan dipermalukan nama besarnya oleh para pimpinannya sekarang yang pasang badan atas kepalsuan ijazah Mulyono. Ironis, memprihatinkan dan membikin miris. Namun dengan membaca QS. Ali Imran : 139 di paragraf 14 di atas kita senantiasa tegak dan optimis. Semoga kita selalu sehat iman, sehat badan dan sehat kesejahteraan. Aamiin.

Terima kasih telah bersabar membaca. Semoga manfaat. Nashrun minAllah wafathun qariib. Wabasyiril mu'miniin.

_______ 

Lamongan,  28 Juni 2025 /  3 Muharram 1447 H



Sabtu, 07 Juni 2025

Jangan Suruh Anak Hebat Seperti Suruh Ikan Terbang, Burung Berenang

_______ Seorang siswi SMP memakai kostum karnival dengan ongkos sewa 1.800.000 rupiah. Ibu bapakmya bekerja di Malaysia yang membayarnya.Tam...