_______
Seorang siswi SMP memakai kostum karnival dengan ongkos sewa 1.800.000 rupiah. Ibu bapakmya bekerja di Malaysia yang membayarnya.Tampaknya mereka menginginkan putrinya tampil cantik, menarik, berjalan di atas catwalk panjang beberapa kilo meter jalan propinsi, disaksikan ribuan pasang mata. Saran guru, jauh sebelum hari karnaval agustusan, yang memberi alternatif yang lebih murah tidak diterima.
Di tempat lain ada yang sewa kereta seharga 2,5 juta ditanggung beberapa siswi, itu belum termasuk biaya rias yang ratusan ribu. Bisa jadi, di tempat lainnya ada yang lebih dari itu untuk biaya perayaan agustusan. Sekolah tak mudah mencegah dan akhirnya mempersilahkan saja, toh tampilan barisan sekolah dapat makin indah dan menarik, potensi dapat juara. Karnaval berbagai lembaga se-wilayah tidak sekedar perayaan tetapi dilombakan juga.
Tampil terbaik di karnaval adalah momen setahun sekali, kesempatan membuat kebanggaan bagi anak, menurut sebagian orang tua di atas. Sebetulnya itu untuk kebanggaan para orang tua itu sendiri juga. Namun untuk yang biasa bersikap sederhana, sak madyo wae, atau yang realistis melihat pendapatan masyarakat, yang berkisar antara 300 ribu sampai 4 juta per bulan, menyewa pakaian dengan tarif tinggi... tak terpikirkan. Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyoroti tentang perayaan HUT RI. Penulis mengambil ilustrasi tersebut untuk potret contoh bagaimana setiap orang tua mempunyai keinginan atau harapan terhadap anak.
Selain contoh di atas, demi kebaikan anak, ada berbagai jalan dan kesempatan lainnya yang digunakan orang tua sesuai pandangan hidup, pendapat dan pendapatan. Ada cerita orang tua yang mendamba anaknya menjadi dokter. Berbagai upaya dilakukan untuk meng-upgrade anak agar kelak dapat masuk kuliah kedokteran. Soal biaya pendidikan ratusan juta rupiah bagi mereka tak masalah. Ternyata si anak yang dikondisikan untuk itu tidak kuat, tak mampu, bahkan sempat alami stress. Orang tua akhirnya menyerah, menyadari kekeliruan memaksakan kehendak yang tak sesuai dengan keadaan anak. Syukur alhamdulillah mereka terhibur ada putra lainnya yang berhasil.
Selain orang tua di rumah, ada pula orang tua di sekolah, yakni para guru, yang lebih kurang juga menitipkan keinginan dan harapan. Para guru selalu mengharap para siswanya mudah diajar, syukur bila berprestasi, membanggakan dan mengharumkan nama sekolah. Paling tidak, para guru mengharap siswanya pandai, nilainya di atas kriteria ketuntasan minimal. Bila ada yang kurang, kadang mereka dimarahi. Sikap para pendidik besar pengaruhnya pada mentalitas anak. Ada pendapat, pola pengajaran yang tidak sesuai bukan saja tidak mencerdaskan, malah dapat membuat putus asa anak.
Penulis, sebagai guru, mengambil sampling di kelas perwalian. Melihat latar belakang siswa berdasar data orang tua mereka, dari status ayah, 14 orang lulusan SD, 8 orang lulusan SMP, 9 orang lulusan SMA, 1 orang belum masuk datanya. Di antara 32 siswa, 6 di antaranya adalah yatim / piatu. Sementara 1 anak yang dikira piatu, mengaku ayah ibunya berpisah. Wali kelas dan guru yang mengajar perlu mengetahui latar belakang mereka baru kemudian melihat potensi akademik, bakat dan minat.
Ingat pula data bahwa 65% rakyat Indonesia mengenyam pendidikan tertinggi hanya pada tingkat SMP. Sementara yang sempat kuliah di perguruan tinggi baru sekitar 7% saja. Guru harus realistis bagaimana menyikapi kurikulum dan menerapkannya secara fleksibel sesuai kondisi peserta didik. Jangan karena terlalu bersemangat, materi kuliah dijadikan materi untuk para siswa. Jangan harap mereka kelak akan kuliah seperti para guru. Tingkat kecerdasan, minat dan potensi anak tak boleh disepelekan, namun pastiilah bervariasi di sistem klasikal umumnya sekarang. Kepekaan dari pengalaman di tengah para siswa menjadi pengembangan dari teori pengajaran yang bersifat umum.
Peran guru amatlah penting dan menentukan. Kehidupan anak-anak dan pertumbuhannya banyak ditentukan pengalaman belajar di sekolah. Apalagi ada sebagian orang tua yang memang amat mengandalkan sekolah atau guru untuk kebaikan anaknya. Mereka lebih senang sebagai yang membiayai saja. Lucunya, ada teman guru yang juga berpendapat demikian, meski guyon saja. Ia tak suka dipusingkan urusan anak saat di rumah, padahal di sekolah obyek pengabdiannyan anak-anak juga, para siswanya. Alhamdulillah anak-anaknya baik-baik..
*******
Ketika si mbak dan adhiknya bercengkerama, guyon, main games, orang tua
tak selalu dapat nimbrung. Cukup berusaha paham, atau sesekali saja menimpali.
Saat sesama siswa ngobrol di suasana santai, bermain, guru pun tak dapat
begitu saja mencampuri. Cukup mengawasi bahwa semua baik-baik saja, berusaha
menjamin tak ada perundungan, bullying. Dunia anak-anak, remaja, orang muda
yang sejak dulu dikenal masa yang indah adalah beda dengan dunia orang
dewasa. Bahkan yang sedang mereka jalani dan hadapi pasti beda dengan
apa yang dialami para orang tua saat di usia atau masa yang sama, dahulu.
Setiap masa melahirkan generasi dan dinamika kehidupan yang berbeda. Kondisi alam, sosial, budaya dan tantangan hidup berubah dari masa ke masa. Berbeda dengan dahulu, kini sedang mengalami kemajuan IT, era keterbukaan dan kebebasan berbicara. Terdapat begitu banyak kemudahan di berbagai aktivitas pergaulan, belajar dan bekerja. Tantangan baru pun muncul. Tersedianya beragam aplikasi atau platform media sosial, hiburan dan games dapat menjadi positif atau pun negatif. Remaja jaman dulu tidak miliki pengalaman seperti remaja sekarang.
*******
Orang tua atau guru tidak bijaksana apabila menuntut anak-anak bersikap atau melakukan segala hal yang dikehendakinya. Tak jarang dijumpai pemikiran hingga perkataan orang dewasa yang menyalahkan anak-anak kenapa tidak dapat bersikap atau melakukan hal yang mereka inginkan. Padahal anak-anak butuh bermain dan berkembang sesuai alam dirinya. Karena faktor umur, barangkali, banyak yang lupa bagaimana dirinya dahulu saat di usia seperti anak-anak mereka, atau waktu sekolah setara murid-muridnya. Kondisi jaman tentu berbeda, maka akan sulit terjadi generasi yang berbeda memiliki pengalaman yang sama.
Walaupun demikian, ada banyak hal yang selalu sama. Nilai kejujuran, kepatuhan pada orang tua, kewajiban terhadap agama,,0 tak pernah berubah untuk diperhatikan sepanjang masa. Jangan karena memanjakan anak, kemudian menoleransi anak bangun lambat, tidak shalat, tidak mengaji hingga pergaulan yang tak terbatasi. Na-udzubillah mindzaalik.
Sebagai 'kurikulum' pengemba⁹ngan diri, penugasan atau
tantangan agar berkembang adalah perlu. Menuntut anak atau siswa agar dapat
memiliki kemampuan tertentu atau menyelesaikan suatu soal adalah suatu keharusan. Yang menjadi masalah adalah apabila 'ujian' atau
soal yang diberikan tidak proporsional, melebihi daya jangkau mereka. Yang seperti ini tidak membuat berkembang namun dapat berakibat
keputus-asaan.
Jika engkau ajari burung untuk berenang, engkau ajari ikan untuk terbang, maka engkau adalah pelatih yang bodoh. Demikian ungkapan yang kita ketahui. Seorang pelatih, guru, orang tua, tak dapat begitu saja menyuruh atau pun mengajari agar anak hebat, mempunyai kompetensi tertentu, tanpa melihat keunikan anak. Orang tua atau guru hendaknya tidak bernafsu menginginkan anak atau siswanya menjadi yang terbaik di luar garis edar atau jalur takdirnya.
Akhirnya, lagi-lagi kita diingatkan tentang pentingnya keikhlasan dalam bersikap, serta keteladanan dalam berihktiyar. Ibda' binnafsik. Mul.ailah dari dirimu sendiri, termasuk untuk orang tua dan guru yang berpengharapan terhadap anak atau siswa. Saat proses menulis ini, alhamdulillah ada sebuah video taushiah dari Ustadz Adi Hidayat yang menarik. Dipesankan dan dimotivasi bahwa orang tua yang merubah dirinya lebih baik, percikan keberkahannya akan sampai kepada anak keturunannya.
"Jadi gampang bila ingin anak shalih atau shalihah itu
orang tua lebih dulu perlu memperbaiki diri. Kalau orang tuanya baik, konsisten
ibadah; pilih aja, mau menggunakan puasa, mau tahajud malam, mau dekat Qur'an,
itu kalau kita sudah punya amalan pokok yang standar dan konsisten
mengerjakannya, itu percikan keberkahannya akan sampai ke anak. Itu sudah
rumus. itu sudah rumus.'
_______
Lamongan, Ahad 24 Agustus 2025 / 30 Safar 1447 H