_______
Hari ini ada berita Pak Kyai yang pingsan setelah berceramah di atas podium. Beliau belum sepekan di rumah setelah memimpin dan membimbing ibadah haji di Tanah Suci. Sebelumnya ada teman yang bilang betapa payah membantu kesibukan di rumah orang tuanya yang pulang haji. Padahal ia tak selalu ikut menghadapi tamu. Yang menjadi pengantin Bapak Ibunya
Penulis berbaring di kursi tunggu untuk tamu di ruang Tata Usaha. Seorang reman guru mengonentari penulis sebagai alumni kemah Mina. Mendengar itu penulis tertarik, istilah itu terasa tepat sekali, tak kalah menarik dengan istilah alumni haji. Penulis merasa jadi berenergi kembali dari kepayahan. Masih ada kekuatan melaksanakan tugas piket 1 hari dalam liburan sekolah. Itu pun kemudian diartikan refreshing dari aktivitas di rumah.
Setelah menjalani cuti haji selama lebih dari 40 hari, alhamdulillah saat itu bersambung dengan liburan semester genap, penulis merasa mendapat kesempatan beristirahat di rumah. Namun itu mungkin bermakna istirahat tidak terbebani tugas dinas. Sedangkan di rumah harus berusaha membalas hormat tamu yang berkunjung yang menghormat kedatangan kami sebagai tamu Allah, duyuufurrahman. Sekitar hampir sepuluh hari kami menerima kunjungan darikeluarga, tetangga, teman atau berbagai pihak.
Alhamdulillah. Ma sya Allah kami 'seakan tak menduga' mendapatkan penghormatan atau dukungan. Sebagaimana kami pun tak menduga telah melewati ibadah memenuhi panggalian Allah ke baytil haram Tanah Suci. Bila pelaksanaan haji dikatakan sebagai ibadah fisik, maka tradisi positif yang menyertainya sebelum berangkat dan lebih lagi setelah kepulangan juga aktivitas fisik. Boleh dibayangkan, setelah menempuh perjalanan sepuh jam atau lebih, mungkin sempat istirahat beberapa jam saja, sesudah itu banyak tamu yang berdatangan.
Tentu saja kami atau jamaah lainnya telah memperkirakan dan berusaha mempersiapkan., namun yang terjadi boleh dikata tak terbayang sebelumnya. Apalagi jika ini pengalaman pertama. Kami tbelum pernah umrah , belum pernah ke luar negeri, belum pernah naik pesawat yang terbang, kecuali pesawat terbang yang mandeg di obyek wisata. Kami pun tak biasa bepergian jauh, apalagi meninggalkan keluarga dalam waktu berpuluh-puluh hari.
Barangkali beda dengan menerima ratusan tamu pada hajatan pernikahan, misalnya. Seperti itu yang mewarnai mungkin suara keras sound system atau hal-hal lain. Sedangkan pada momen kepulangan haji, yang menjadi pengantin sekaligus pembawa acara sepenuhnya adalah diri sendiri. Lebih lagi di beberapa hari ke depan, saat yang membantu sudah payah, pamit selesai untuk urusan lainnya, maka semuanya kita sendiri yang melayani penghormatan pada yang datang. Pasti semua sebatas kemampuan.
Ingin kembali pada kondisi normal dengan masuk di hari piket liburan, ternyata fisik dan pikiran belum benar-benar bugar. Sehabis di sekolah terbaring di kursi tunggu ruang TU, di rumah masih ada tamu yang sudah datang dan menunggu. Berusaha tak dirasa, pantat yang penat dan panas kebanyakan duduk, suara yang serak dan belum sempat diistirahatkan karena harus bercerita dan menghargai yang datang menghormat. Ma sya Allah. Kami tidak mengeluh dan kami bersyukur telah dimampukan menjalani. Tentu kami banyak kekurangan yang kami minta untuk dimaklumi dan dimaafkan.
IIni di antara pengalaman mendapatkan panggilan Allah menjadi duyuufurrahman dua tahun lalu, tahun 2024. Sebuah pengalaman istimewa bak jadi pengantin. Merasa istimewa meski jutaan orang telah mengalaminya. Allaahummaj'alna hajjan mabruura wasa'yan masykuura waddzanban maghfuura watijaaratan lantabuura. Aamiin.
Innasshafa walmarwata min sya'aairillaah. Shadaqallaahul 'adhiim.
Selasa, 1 Muharam 1448 H. / Selasa 16 Juni 2026
_______
Tidak ada komentar:
Posting Komentar